WHO Catat Lebih dari 1.300 Kematian Akibat Gelombang Panas di Eropa
- Brigita Nicole Silalahi
- Jul 3
- 2 min read

Prancis, GemaKata - Gelombang panas ekstrem melanda sejumlah negara di Eropa sejak pertengahan Juni 2026. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih akibat suhu tinggi yang mencapai 40 derajat Celsius hingga 44 derajat Celsius di beberapa wilayah.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat sejak 21 Juni terkait suhu tinggi di Eropa. Ia menyebut stres panas sebagai "pembunuh senyap" karena rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu ekstrem.
Para ahli meteorologi menyebut gelombang panas ini dipicu oleh fenomena "kubah panas" (heat dome) dan pola cuaca omega block yang mengunci sistem udara panas di satu wilayah selama berhari-hari. Fenomena ini memerangkap udara panas dari Afrika Utara di bawah sistem tekanan tinggi serta mencegah masuknya udara dingin dari Atlantik.
Tingginya angka kematian di Eropa juga dipengaruhi oleh kerentanan demografis dan infrastruktur. Sekitar 22 persen populasi di Uni Eropa adalah warga berusia 65 tahun ke atas, kelompok paling rentan terhadap serangan panas fatal. Selain itu, mayoritas bangunan tua di Eropa dirancang untuk menahan panas guna menghadapi musim dingin, bukan untuk mendinginkan ruangan. Hanya sekitar 19 persen rumah di Eropa yang dilengkapi pendingin ruangan, berbanding jauh dengan Amerika Serikat.
Prancis menjadi salah satu negara terdampak paling parah dengan sekitar 1.000 kematian tambahan tercatat sejak 23 Juni. Sebanyak 85 persen korban merupakan kelompok lanjut usia berusia 65 tahun ke atas.
Spanyol mencatat 1.028 kematian terkait gelombang panas sepanjang Juni, rekor tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2015. Sebanyak 1.022 kematian terjadi pada usia 65 tahun ke atas.
Suhu tertinggi tercatat di Jerman mencapai 41,7 derajat Celsius. Republik Ceko mencatat 41,1 derajat Celsius dan Polandia 40,5 derajat Celsius. Gelombang panas juga memicu kebakaran hutan di kota Sainte-Marie-la-Mer, Prancis.
WHO memperingatkan bahwa Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan tercepat di Bumi, memanas dua kali lipat dari rata-rata global. Gelombang panas yang sebelumnya tergolong langka kini hampir terjadi setiap tahun akibat perubahan iklim.




Comments