Peninggalan Para Sayid: Dari Masjid Hingga Kitab
- Caren Putri Gracia
- Jun 3
- 6 min read

Kampung Arab dan Peninggalan Para Sayid
SOLO, GemaKata - Kampung Arab Pasar Kliwon di Kota Surakarta menjadi salah satu kawasan bersejarah yang menyimpan jejak panjang peradaban Islam di tanah Jawa. Kawasan ini dikenal sebagai pusat aktivitas para Sayid atau keturunan Nabi Muhammad SAW yang datang dari Hadramaut, Yaman. Para Sayid tersebut bukan hanya membawa ajaran agama Islam, tetapi juga nilai-nilai budaya, tradisi keilmuan, serta peninggalan berwujud fisik seperti masjid dan kitab yang hingga kini masih terjaga dengan baik.
Kampung Arab Pasar Kliwon bukan sekadar permukiman etnis. Secara sosial, masyarakat Kampung Arab Pasar Kliwon telah menjadi bagian penting dari dinamika kota Solo. Kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri karena nuansanya yang khas seperti arsitektur, kuliner, maupun tradisi masyarakatnya. Masjid-masjid di kawasan Kampung Arab memiliki interior khas Timur Tengah dan masih menyimpan peninggalan bersejarah seperti Al-Qur’an dan kitab-kitab berbahasa Arab. Selain itu, kaligrafi Arab gundul yang tertulis di bagian depan Masjid Riyadh menjadi salah satu bukti autentik kuatnya jejak peradaban Arab di wilayah tersebut.
Peninggalan sejarah paling menonjol di kawasan ini adalah keberadaan masjid-masjid tua yang hingga kini tetap berdiri kokoh dan berfungsi aktif sebagai pusat kehidupan religius masyarakat. Di antara yang paling dikenal adalah Masjid Riyadh dan Masjid Assegaf, dua bangunan bersejarah yang tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang penyebaran Islam di kampung Arab Pasar Kliwon. Arsitekturnya yang khas dengan sentuhan Timur Tengah berpadu dengan unsur lokal menjadi bukti harmonisasi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Lebih dari sekadar tempat menunaikan salat, kedua masjid ini berperan penting sebagai pusat kegiatan spiritual, pendidikan, dan sosial masyarakat setempat. Di dalamnya, suasana religius berpadu dengan tradisi keilmuan Islam yang masih terjaga kuat. Hingga kini, kitab-kitab kuno beraksara Arab gundul masih rutin dibacakan, doa-doa dilantunkan dengan khusyuk, dan berbagai majelis ilmu diselenggarakan untuk meneruskan warisan pengetahuan para ulama terdahulu. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai keislaman terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan masjid bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga penjaga identitas dan warisan spiritual masyarakat kampung Arab Solo.
Sejarah dan Tradisi Masjid Riyadh
Masjid Riyadh menjadi salah satu peninggalan fisik paling bersejarah di Kampung Arab Pasar Kliwon. Masjid ini terletak di Jalan Ibu Pertiwi, Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Berdasarkan penuturan dari manajer harian Masjid Assegaf, Ustaz Ali Abdul Razaq Sungkar, Masjid Riyadh dibangun sekitar tahun 1916. Pendiri masjid ini adalah Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, seorang ulama keturunan Yaman yang menetap di Solo setelah menempuh perjalanan panjang dari Tanah Seiwun, Yaman. Namun ada juga yang mengatakan bahwa masjid ini pertama kali didirikan pada tahun 1927, “Masjid Riyadh didirikan pada tahun 1927 oleh Habib Alwi. Habib Alwi diutus oleh ayahnya, Habib Ali Al-Habsyi, untuk menyiarkan agama Islam ke Asia Tenggara hingga sampai ke Indonesia,” Jelas salah satu warga setempat, Habib Ahmad Farid Umar Assegaf atau lebih dikenal dengan sebutan Habib Demo.
Sejarah berdirinya masjid ini berawal dari pengalaman pribadi Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi yang kehilangan ayahnya, Habib Ali Al-Habsyi, di Tanah Seiwun. Sesuai dengan perintah sang ayah, Habib Alwi kemudian melakukan perjalanan dakwah ke Asia Tenggara hingga sampailah di Nusantara. Aly Mashar dalam jurnalnya yang berjudul “Makna Ziarah Makam habib Anis Al-Habsyi Bagi Masyarakat NU Surakarta” menjelaskan bahwa pada awalnya Habib Ali dan keluarganya tinggal di rumah milik salah satu Raden Kasunanan Surakarta di Kampung Gading. Beberapa waktu berselang, Habib Muhammad al-Aydrus mewakafkan sebidang tanah di Kampung Gurawan, Pasar Kliwon, kepada Habib Alwi. Di atas tanah tersebut kemudian dibangun Masjid, zawiyah, dan rumah tinggal. Setelah pembangunan selesai, keluarga Habib Alwi resmi pindah dan menetap di kawasan itu hingga sekarang. Masjid tersebut dinamai seperti masjid yang didirikan oleh ayahnya di Seiwun, yaitu Masjid Riyadh. “Masjid Riyadh dibangun oleh Habib Alwi dengan nama yang sama dengan nama masjid ayahnya di Yaman, yang arti nama tersebut adalah taman orang yang suka beribadah,” jelas salah satu dosen Sosiologi FISIP UNS, Rezza Dian Akbar SIP., M.Sc, yang juga merupakan warga kampung Arab Solo. Rezza juga menambahkan bahwa Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi beserta anak-anaknya, Habib Ahmad bin Alwi bin Ali Al-Habsyi dan Habib Muhammad Anis bin Alwi bin Ali Al-Habsyi, dimakamkan di masjid Riyadh dan hingga ini masih didatangi para peziarah terutama pada saat rangkaian acara Haul Habib Ali atau yang lebih dikenal dengan Haul Solo.

Makam Para Sayid sebagai Pusat Spiritualitas dan Tradisi Religius
Menurut keterangan Habib Ahmad, tradisi ziarah ke makam di kawasan tersebut masih rutin dilakukan, terutama saat peringatan haul. Pada momen itu, jumlah peziarah biasanya meningkat tajam sehingga pengelola makam menerapkan sistem bergantian untuk menjaga ketertiban. “Kalau pas haul, makam dibuka 24 jam untuk umum karena banyak jamaah yang datang dari berbagai daerah,” ujar Habib Ahmad. Namun di luar waktu haul, akses ke makam dibatasi hingga sekitar pukul 11 atau 12 malam. Pembatasan ini dilakukan untuk alasan keamanan setelah sebelumnya pernah terjadi kasus pencurian di area tersebut.
Kehidupan di Masjid Riyadh tak pernah sepi dari kegiatan keagamaan. Habib ahmad menjelaskan setiap hari selepas salat dzuhur, jamaah berkumpul mengikuti rauhah, kegiatan pembacaan dan pengkajian kitab gundul. Selain itu, setiap malam Jumat, masyarakat melaksanakan pembacaan maulid, sementara setiap bulan Rajab diadakan khataman Bukhori yang menjadi tradisi keilmuan turun-temurun. Hingga kini, pengelolaan masjid tetap berada di bawah tanggung jawab keluarga besar Habib Alwi.
Masjid Assegaf dan Hubungannya dengan Keraton Surakarta
Tak jauh dari Masjid Riyadh berdiri megah Masjid Assegaf, salah satu masjid tertua di Pasar Kliwon yang memiliki hubungan erat dengan Keraton Surakarta. Masjid ini terletak di Jalan Kapten Mulyadi No. 190, Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Menurut keterangan Ustaz Ali, masjid ini dibangun sekitar tahun 1920 oleh Habib Abu Bakar Assegaf, seorang ulama besar keturunan Yaman. “Menara yang berdiri di depan masjid itu bahkan lebih tua dari menara Masjid Agung Surakarta,” ujar Ustaz Ali. Berdasarkan penjelasan Ali Abdul Razak Sungkar dalam tesisnya yang berjudul “Wakaf Produktif Masjid Jami’ As-Segaf Surakarta Perspektif Manajemen Wakaf”, kisah pendirian Masjid Assegaf bermula ketika Habib Abu Bakar Assegaf pada awal abad 20 berdakwah di daerah Keraton Kasunanan Surakarta, Pada masa itu, Pakubuwono X mengutus salah satu prajuritnya untuk menemui Habib Abu Bakar Assegaf dan memintanya mendoakan sang putri yang sedang sakit dan akhirnya sembuh dari penyakitnya. Sebagai bentuk penghargaan, pihak keraton menghadiahkan sebidang tanah yang kemudian digunakan untuk mendirikan masjid.
Masjid Assegaf memiliki nilai historis yang kuat bukan hanya karena arsitekturnya, tetapi juga karena hubungan spiritual yang melatarbelakangi pendiriannya. Berdasarkan penuturan Rezza, Habib Abu Bakar merupakan murid dari Habib Ali Al-Habsyi di Yaman. Ketika mendengar kabar bahwa anak gurunya, Habib Alwi, menetap di Solo, Habib Abu Bakar sering berkunjung ke Solo dan membangun masjid yang berdekatan dengan masjid Riyadh sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga gurunya. “Hormat kepada anak guru adalah bentuk cinta kepada sang guru,” ujarnya.

Dalam kesehariannya, Masjid Assegaf menjadi pusat kegiatan keagamaan yang tak pernah sepi. Rutinitas di Masjid Assegaf tidak hanya berfokus pada ibadah wajib, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang berlangsung secara konsisten. Menurut penuturan salah satu warga setempat, Samy bin Nukman Nahdi, selain salat lima waktu berjamaah, masjid ini mengadakan kajian pagi setiap hari kecuali Jumat dan Minggu, serta kajian malam dari waktu Maghrib hingga Isya selama sekitar 45 menit. Kegiatan pengajian juga dilaksanakan lima kali dalam sepekan, kecuali pada hari Kamis dan Minggu. Setiap diadakan kajian atau maulid terdapat tradisi unik yaitu pembagian teh jahe untuk jamaah, sementara pada malam hari terdapat kajian kitab dari Maghrib hingga Isya. “Setiap ada maulid atau pengajian-pengajian malam bersama habib, biasanya saya dikasih secangkir kecil teh jahe” tutur Samy. Selain kegiatan harian, Masjid Assegaf juga menjadi melaksanakan acara tahunan seperti salat Idul Fitri, peringatan Maulid Nabi, serta perayaan hari-hari besar Islam lainnya yang selalu ramai dihadiri jamaah dari berbagai kalangan.
Tidak hanya itu, ketika Haul Solo dilaksanakan setiap tahunnya, Masjid Assegaf selalu berperan sebagai tempat singgah bagi jamaah yang datang dari luar kota, menyediakan konsumsi dan tempat beristirahat tanpa pungutan biaya. Masjid Assegaf juga menyediakan sejumlah kamar mandi portable, layar monitor dan tim media untuk memfasilitasi para jamaah haul yang hadir. “Kami sudah punya persiapan sendiri untuk menjamu tamu. Biasanya ada yang datang kami siapkan air minum, snack, serta fasilitas kamar mandi portable,” ujar Ustaz Ali.
Meskipun tidak ada keterkaitan langsung antara satu sama lain, baik Masjid Riyadh maupun Masjid Assegaf merepresentasikan dua wajah utama peninggalan para Sayid di Pasar Kliwon yaitu keilmuan dan spiritualitas. Keduanya bukan sekadar bangunan fisik yang menua oleh waktu, tetapi penanda perjalanan panjang dakwah Islam di Jawa, khususnya daerah Pasar Kliwon.
Warisan Keilmuan Islam Para Sayid di Kampung Arab Pasar Kliwon
Selain masjid, peninggalan lain para Sayid yang masih lestari di Pasar Kliwon adalah kitab-kitab dan naskah keagamaan. Kitab Simtudduror karya Habib Ali Al-Habsyi menjadi bacaan pokok dalam tradisi maulid, “Karena keturunan Habib Ali Al-Habsyi berada di Solo maka, pembacaan kitab itu terpusat di solo. Kitab ini dibaca di Masjid Riyadh itu setiap hari Jumat,” jelas Rezza. Kitab Simtudduror ini berisi kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW yang ditulis dengan gaya sastra Arab yang indah dan penuh pujian, sehingga kerap dijadikan rujukan utama dalam tradisi pembacaan maulid di berbagai belahan dunia Islam, termasuk di Solo. Di Masjid Riyadh, kitab Simtudduror dibacakan secara rutin setiap malam Jumat dan menjadi bagian penting dalam perayaan Haul Solo. Tradisi ini tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap warisan keilmuan dan spiritualitas yang diwariskan para Sayid dari Hadramaut. Melalui lantunan maulid ini, nilai-nilai cinta kepada Nabi dan penghormatan terhadap ulama terdahulu terus dijaga lintas generasi, menjadikan Simtudduror bukan hanya kitab, melainkan simbol kesinambungan dakwah dan budaya Islam yang hidup di Kampung Arab Pasar Kliwon.
Warisan tersebut bukan hanya benda mati, melainkan representasi hidup dari nilai dakwah, keilmuan, dan tradisi keislaman yang masih dirawat dengan penuh cinta hingga hari ini. Dari masjid hingga kitab, peninggalan para Sayid di Kampung Arab Pasar Kliwon menjadi bukti bahwa sejarah bukan sekadar kenangan, melainkan napas yang terus menghidupi masyarakatnya.




Comments