Haul Habib Ali : Lebih dari Sekadar Ziarah
- Brigita Nicole Silalahi
- Jun 3
- 7 min read

SOLO, GemaKata - Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi menjadi salah satu fenomena yang setiap tahunnya disaksikan oleh Kota Solo. Setiap penyelenggaraannya, menyebabkan jalan kawasan Kampung Arab Pasar Kliwon padat dengan para jamaah dari berbagai kota di Indonesia bahkan luar negeri. Bagi sebagian orang, acara haul bukan sekedar tradisi tahunan. Namun, menganggap ini momentum yang tepat menggerakan berbagai aspek kehidupan masyarakat Kampung Arab Pasar Kliwon, mulai dari spiritual, sosial dan ekonomi secara signifikan. Kemeriahan Haul tumbuh secara organik tanpa promosi besar-besaran, namun terus menarik berbagai lapisan masyarakat.
Dampak Spiritual : Tradisi yang menghidupkan Iman
Setiap 20 rabiul akhir, Kota solo selalu kembali menjadi pusat pertemuan ribuan jamaah dari berbagai daerah. Para jamaah datang dengan membawa berbagai tujuan dalam mengikuti Haul di Kota Solo. Rezza Dian Akbar SIP., M.Sc Seorang dosen sosiologi yang kini tinggal dekat Pasar Kliwon dan menjadi jamaah masjid assegaf menjelaskan bahwa rata-rata jamaah hadir dengan motivasi yang tidak lepas dari kerinduan dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW . mereka percaya Rasul melihat bahwa mereka hadir karena Ia, sehingga secara tidak langsung tersalurkan keberkahan dari Nabi Muhammad SAW “Banyak yang datang karena keyakinan akan keberkahan atau tabarruk dari doa dan kehadiran para keturunan Rasul. Para dzurriyah ini dipandang sebagai penerus dakwah Nabi,” ujarnya.
Para keturunannya akan menjadi ulama yang meneruskan dakwah Rasul. Di lain sisi, warga yang tinggal dekat pasar kliwon yaitu Samy bin Bukman Nahdi membagikan pengalamannya mengikuti haul dan mengatakan bahwa ia datang karena dilandasi rasa ingin tahunya terhadap tradisi Haul. Ia menilai Haul tidak hanya dijadikan ladang mendapat kebaikan, tapi sebaliknya tempat berbuat baik pula, “Bagi saya, Haul bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga kesempatan untuk menebar kebaikan”, ujarnya. Ia percaya, setiap orang yang hadir akan membawa pulang keberkahan dengan caranya masing-masing.
Dampak Sosial : Potret Interaksi Jamaah Haul Habib Al
Tak hanya melahirkan kekuatan dalam iman, kegiatan ini juga membangun dinamika sosial yang kuat. Dinamika itu dihasilkan dari pertemuan dengan ribuan jamaah yang memadati kawasan Kampung Arab, Pasar Kliwon selama pelaksanaan Haul Solo. Di Tengah kepadatan jamaah datang berziarah, berdoa, dan mendengarkan ceramah, tercipta pula interaksi sosial yang terjadi secara signifikan. Tradisi Haul juga seketika berubah menjadi ruang tempat orang-orang bertemu, hingga menemukan kembali persaudaraan sesama umat Muslim.
“Dampak positif juga saya jadi jalin silaturahmi dengan orang-orang di Haul, saya juga dapat kenalan baru disana,” ujar Samy, warga lokal Kampung Arab, Pasar Kliwon, saat kami wawancarai.
Baginya, momen yang bisa dimanfaatkan saat haul yaitu kesempatan mempererat tali silaturahmi dengan jamaah dari berbagai daerah. Banyak jamaah yang datang membawa kisah dan latar belakang berbeda, namun dalam suasana haul mereka melebur menjadi satu dalam nilai-nilai kebersamaan. Selain memperkuat hubungan sosial antarindividu, Haul Habib Ali juga memperkuat jaringan sosial masyarakat Kampung Arab sendiri. Banyak warga membuka rumah mereka untuk menampung jamaah, menyediakan makanan, atau sekadar membantu menunjukkan arah. Praktik gotong royong dan saling membantu ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai sosial dan spiritual dapat berjalan beriringan.
Dampak Ekonomi : Perputaran Ekonomi yang Tumbuh dari Jalanan Pasar Kliwon
Keberkahan pelaksanaan Haul juga turut menggerakkan perekonomian kawasan Kampung Arab Pasar Kliwon, terlihat dari meningkatnya aktivitas perdagangan maupun jasa. Habib Ahmad Assegaf, warga asli pasar kliwon menilai acara Haul terus menaikkan pendapatan para penjual disana "Setiap haul masyarakat senang, karena ekonomi naik sampai ada yang bilang kalau bisa haul tiga kali setahun”. Ungkapan ini juga menggambarkan antusiasme warga yang merasakan dampak langsung. Kemeriahan ini juga digambarkan di sepanjang jalan menuju lokasi haul, deretan pedagang kaki lima datang menjajakan makanan hingga penjual cendera mata. Tidak hanya itu, para ojek online maupun pangkalan juga ikut meramaikan demi mencari penumpang, hingga menaikkan pendapatan mereka yang mencapai dua kali lipat dari hari-hari biasa . salah satu ojek online di acara haul Pak Ceko berumur 30 tahun mengatakan ”saya kesini karna tau pasti banyak yang butuh ojek, dan saya juga kadang ga berpatok aplikasi jadi mandiri”.
Pengaruh lainnya yang bisa dilihat secara langsung dari harga penginapan di sekitar Kampung Arab Pasar Kliwon. Harga hotel di kawasan Kampung Arab Pasar Kliwon melonjak tajam selama pelaksanaan Haul Habib Ali. Tarif yang biasanya Rp 500.000,00 per malam, naik hingga Rp 2.000.000,00 per malamnya saat acara berlangsung. Lonjakan itu tidak terjadi tanpa sebab, dikarenakan ribuan jamaah dari luar kota menjadikan penginapan sebagai salah satu kebutuhan pokok selama menghadiri Haul. Akibat tingginya permintaan, banyak tamu yang sudah memesan kamar jauh hari, bahkan ada yang dari awal tahun hingga saat itu juga setelah check out dari hotel mereka selesai acara. Kondisi ini juga berdampak kepada warga sekitar yang kemudian mengalihfungsikan tempat tinggal mereka menjadi penginapan sementara. Tarif sewanya pun juga cukup tinggi, mulai dari rumah kecil dengan ukuran 60 persegi disewakan 2 hari seharga Rp5.000.000,00 dan rumah berukuran 30 meter persegi disewakan Rp2.000.000,000. Fenomena ini dengan jelas mencerminkan tumbuhnya aktivitas ekonomi warga lokal yang memanfaatkan momentum haul sebagai peluang usaha. Tidak berhenti disitu, banyak pelaku usaha baru yang bermunculan dengan menjual makanan, minuman hingga souvenir yang memadati jalan.
Di hari terakhir “Rauhah”, masih banyak orang di pinggir jalan mengambil kesempatan menawarkan penginapan yang dihitung perorangan. Harga 1 harinya ditafsir mulai dari 100rb per orang dengan fasilitas toilet dan tempat tidur lesehan. Pemerintah Kota Solo pun ikut merasakan dampaknya melalui peningkatan pendapatan dari sektor ekonomi. Seorang Habib mengatakan bahwa dalam 3 malam pelaksanaan Haul, mampu menghasilkan total pajak hotel sekitar Rp 5 miliar. Selain itu, para penjual UMKM juga datang untuk mengambil kesempatan berjualan. Penjual makanan maupun cinderamata berjajar rapat di sepanjang jalan Pasar Kliwon. Dikarenakan dari panitia Haul sendiri menyewakan sejumlah booth tepatnya di trotoar maupun pinggir jalan dengan harga kisaran 200 rb. Ini menjadi bukti bahwa haul mendatangkan peluang usaha bagi warga sekitarnya. Pengalaman dua Tahun Pak Parjiman yang kini berjualan pakaian di Haul membuktikan bahwa hari “Rauhah” hingga peringatan Maulid adakah puncak ramai pembeli. ”Biasanya ramai pembeli waktu hari terakhir rauhah aja sampai maulid”, ujarnya sembari menyusun jualannya.
Tidak hanya itu, Haul ini memiliki peluang menjadi daya tarik wisata di Kota Solo. Dan bisa dikatakan sebagai wisata religi, banyak yang membuka paket travel Haul dalam pelaksanaan haul yang datang dari berbagai kota. Umumnya paket ini akan memberikan fasilitas berupa tiket pesawat, transportasi selama di Solo, konsumsi, penginapan hingga tour leader. Selain pergi untuk Haul, beberapa biro travel menambahkan destinasi wisata lain di sekitar Kota Solo dalam perjalanannya. Setiap paket yang ditawarkan juga memiliki jumlah kuota yang berbeda beda, harga akan menyesuaikan dengan fasilitas yang disediakan. Jadi, Haul ini menjadi tempat untuk orang-orang membuka ide dan peluang usaha.

Kontribusi Konkrit Masyarakat di Balik Kemeriahan Haul
Kesuksesan Haul tidak lepas dari peran masyarakat lokal yang menjadi tuan rumah bagi ribuan jamaah. Peran masyarakat sekitar sangat dibutuhkan dalam mendukung kelancaran acara haul, hingga bisa dikatakan masyarakat lokal pun menjadi elemen penting. Mereka secara tidak langsung membagi peran sesuai dengan kemampuannya. Di pagi hari, ada warga yang menyediakan sarapan gratis berupa seduhan energen, teh, kopi dan lainnya. Menjelang malam hari, menu berganti dengan menyediakan makan berat gratis hidangan tradisional yang disebut nasi kebuli. Walaupun banyaknya jamaaah yang mengikuti, hebatnya persediaan tidak pernah kekurangan. Jadi, bagi orang yang membutuhkan makanan bisa datang kapan saja tanpa perlu khawatir. Bisa dipastikan setiap stan konsumsi gratis akan ramai oleh para warga yang datang, Inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari haul.
Selain itu, warga juga ada yang ikut sebagai panitia dari masjid assegaf dan riyadh. Dalam sebuah jurnal dengan judul “Haul Solo Tradition: Structural-Functional Analysis for the Harmonization of Multicultural Society in Surakarta” menjelaskan bahwa panitia menyembelih sekitar 150-200 kambing setiap tahunnya untuk menyediakan makanan gratis untuk para jamaah. Di Momen ini masyarakat mengambil peran sebagai juru masak maupun penjaga stan makanan.
Para tamu dari luar kota disambut baik oleh Haul dan masyarakat Kota Solo, hal ini dialami oleh salah satu tamu asal kalimantan, Pak Salim yang datang ke Solo hanya untuk mengikuti haul dengan menggunakan transportasi laut dan darat. Perjalanannya menempuh 1 hari 1 malam, sekalipun menyita banyak waktu hal ini tidak menjadi penghalang untuk dia ”walaupun harus menempuh perjalanan yang jauh, saya tetap senang ikut” katanya. Para tamu disuguhkan dengan berbagai fasilitas di beberapa titik. Ini menjadi pendorong untuk jamaah dari luar kota terus mengikuti Haul setiap tahunnya. Hal ini membuat Pak Salim jadi termotivasi tahun ini mengajak temannya yang lain untuk ikut merasakan hangatnya haul.
Banyak warga setempat dengan sukarela membuka rumah untuk menampung para tamu dari berbagai daerah. Selain itu, semangat berbagai juga tumbuh di tengah masyarakat dengan berbagi makanan dan minuman gratis, hingga kontribusi dari penyediaan lahan parkir. Masjid Assegaf juga menjadi penopang vital dengan membantu menyediakan fasilitas seperti makan, air minum, dan kamar mandi portable gratis dan dibuka 24 jam untuk kenyamanan para jamaah.
Rupanya di dekat masjid riyadh juga ada sebuah tempat yang dijadikan penginapan gratis dengan fasilitas tempat tidur lesehan dan toilet umum. Tempat ini juga dijaga oleh Bapak Abdul yang saat haul ia juga merangkap sebagai penjual kelontongan. Beliau menceritakan bahwa tempat ini selalu ramai, seperti tahun lalu “Tahun kemarin sampe ga muat, totalnya seribu lebih”, ujarnya. Ternyata sebelumnya tempat ini sebuah pabrik bekas pakaian yang kini di sulap menjadi penginapan gratis untuk tamu dari luar kota. Hal ini bisa dilihat dari struktur bangunan yang luas dan besar serta 2 tingkat.
Penginapan gratis ini dikelola oleh Gus Karim dari pondok pesantren Al-Jayadi. Mengandalkan sistem yang sangat mudah hanya dengan datang dan menetapkan bagian masing-masing. Gerakan ini tentunya menjadi solusi bagi jamaah yang datang dari luar kota dan tidak punya tempat untuk berteduh ketika mengikuti Haul. Namun, tentunya dari keramaian ini muncul masalah yang umum terjadi, seperti antrean toilet yang panjang. Diluar keramaian penggunaan toilet, semua aktivitas di penginapan ini selalu berjalan dengan baik dan terjaga “Alhamdulillah aman, dari tahun lalu tidak pernah terjadi kejadian yang tidak mengenakan”, ujarnya kepada tim GemaKata.

Namun dibalik kemeriahan acara haul, secara beriringan akan memunculkan tantangan tersendiri. Efek keramaian membuat ruas jalan di Pasar Kliwon berubah menjadi lautan manusia dan kendaraan. Dalam satu tempat terjadi berbagai aktivitas secara bersamaan. Sehingga hal ini mengganggu kelancaran mobilitas jalan Pasar Kliwon, ini dibuktikan dari pengalaman salah satu warga lokal, Samy ”pengalaman saya melewati pasar kliwon pakai motor mau ke UNS bisa memakan waktu sampai 2 jam”, ujarnya wawancara. Secara tidak langsung kemacetan pasti terjadi dan menjadi konsekuensi tahunan yang harus terus dihadapi. Jejak keramaian juga terlihat dari banyaknya sampah makanan dan minuman berserakan pasca hingga selesainya acara. Dia juga mengindikasikan bahwa kesadaran menjaga kebersihan sebagai pengunjung masih perlu ditingkatkan.
Kenyataannya suasana acara haul yang tahun ke tahun terus menyajikan sesuatu yang berbeda dan semakin berkembang jumlah jamaahnya. Setiap haul, satu hal yang dapat dipetik bahwa ini akan selalu menjadi jembatan silaturahmi yang bermakna untuk masa depan. Haul telah menjadi ruang tempat nilai-nilai kebaikan terus dipelajari, dihidupi dan diwariskan hingga membentuk ekosistem yang berkelanjutan bagi masyarakat Solo.




Comments