top of page

Harmoni yang Lahir dari Perjumpaan Budaya

  • Naura Sakhi Minerva
  • May 29
  • 7 min read

Updated: Jun 3


Gerbang Masjid Riyadh di Pasar Kliwon, Solo. Sumber: Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva
Gerbang Masjid Riyadh di Pasar Kliwon, Solo. Sumber: Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva

Kampung Arab Pasar Kliwon, Jejak Panjang Akulturasi di Tanah Jawa


SOLO, GemaKata - Sejarah tersimpan dan hidup dalam keseharian warga Pasar Kliwon. Pasar Kliwon atau yang dikenal sebagai Kampung Arab lahir dari sejarah panjang perjumpaan budaya, ekonomi, dan keagamaan yang mengakar kuat di dalamnya. “Sebetulnya, Pasar Kliwon tidak pernah dinamai sebagai Kampung Arab secara administratif,” tutur salah satu manajer harian Masjid Assegaf, Ustaz Ali Abdul Razaq Sungkar. “Tapi Karena sejak dulu banyak orang Arab yang memang tinggal di sini, lama-lama masyarakat mengenalnya sebagai Kampung Arab” tambah-nya. Terciptanya Kampung Arab Pasar Kliwon ini juga merupakan hasil dari berbagai dinamika ekonomi, sosial, dan juga politik yang terjadi sejak awal kedatangan mereka ke Nusantara. 


Salah satu narasumber mengatakan bahwa julukan “Kampung Arab” bermula dari hadirnya seorang ulama besar. “Kenapa suatu wilayah dikatakan Kampung Arab, ini dimulai dengan adanya ulama besar yang menetap di suatu wilayah tersebut,”  ujar dosen Sosiologi FISIP UNS, Rezza Dian Akbar SIP., M.Sc. Di mana seorang habib menetap, maka dari situ para murid dan keturunannya akan mendatangi wilayah tersebut dan membentuk suatu lingkungan baru. Nama-nama besar seperti Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi dan Habib Abu Bakar Assegaf yang menjadi daya tarik tersendiri untuk Solo. Hal ini yang menjadikan Solo bukan hanya pusat ekonomi, melainkan pusat dakwah dan pendidikan agama.


Tradisi Islam yang dibawa oleh imigran Arab juga ikut beradaptasi dengan kearifan lokal yang sudah ada. Haul, pembacaan maulid, dan kegiatan keagamaan yang lain turut dilakukan tanpa mengesampingkan budaya Jawa. Di wilayah yang dikenal sebagai Kampung Arab Pasar Kliwon, dari titik ini, jaringan sosial dan budaya Arab perlahan tumbuh. Rumah-rumah dengan gaya Timur Tengah, hingga masjid-masjid besar yang dibangun, dan tradisi keagamaan mulai berakar. 


Kisah kedatangan para imigran Arab ini sudah bermula dari abad-abad yang lalu. Sebagian besar dari mereka laki-laki, membawa semangat dagang dan dakwah. “Biasanya kampung Arab terbentuk di sisi timur alun-alun, dan kebanyakan ada di beberapa kota pesisir, Pekalongan, Tegal, dan Semarang,” ujar dosen Sastra Arab FIB UNS, Alif Al Hilal Ahmad S.S., M.A.. Namun, Solo berbeda. Kota ini tidak berada di pesisir dan terbilang jauh dari jalur laut, tetapi dekat dengan pusat kebudayaan seperti Keraton Kasunanan. 


Keraton Solo memiliki peranan yang penting dalam memperkuat eksistensi komunitas Arab di kawasan Pasar Kliwon. Melalui pengakuan dan perlindungan yang diberikan, Keraton menciptakan ruang sosial yang aman dan juga stabil bagi komunitas Arab. Interaksi antara imigran Arab dan Keraton terjalin dengan baik sehingga menciptakan hubungan yang harmonis. Keraton Solo memiliki peranan yang penting dalam memperkuat eksistensi komunitas Arab di kawasan Pasar Kliwon. Melalui pengakuan dan perlindungan yang diberikan, Keraton menciptakan ruang sosial yang aman dan juga stabil bagi komunitas Arab. 


Interaksi antara imigran Arab dan masyarakat lokal terjalin dengan baik. Orang Indonesia terkenal dengan keramahannya terhadap siapapun yang datang dengan niat baik, termasuk para imigran Arab itu sendiri. “Selama itu berniat baik dan tidak membuat hal yang tidak mengenakkan, orang Indonesia pasti akan menerima siapa saja dengan baik,” kata Hilal. Tujuan awal mereka datang dengan semangat berdakwah dan berdagang disambut baik oleh masyarakat lokal. Seiring berjalannya waktu, para imigran Arab ini membentuk sebuah perkumpulan baik itu dalam bidang keagamaan maupun sosial yang dimana menjadikan wadah untuk menjaga silaturahmi dan memperkuat identitas mereka di negara yang mereka tempati. 


Dari sisi ekonomi, para imigran Arab ini dikenal sebagai bangsa penjelajah yang pandai dalam membaca peluang. Tepatnya di Solo ini, mereka mencari potensi apa yang bisa mereka kembangkan terutama dalam hal bisnis. Pasar Kliwon selain terkenal sebagai Kampung Arab juga terkenal dalam pusat bisnis tekstil. “Hampir semua bisnis kain itu dikuasai oleh orang Arab, bahkan menjadi pusat grosir untuk kota-kota lain,” ujar Hilal. Bisnis pakaian ini yang kemudian diwariskan secara turun-menurun, dari generasi ke generasi. 


Menariknya adalah aktivitas ekonomi yang mereka lakukan ini tidak menimbulkan perselisihan dengan masyarakat lokal di Solo. Masyarakat lokal umumnya banyak yang bergerak di bidang makanan dan kerajinan tidak merasa tersaingi. Imigran Arab justru membuka ruang usaha baru yang belum banyak dilakukan masyarakat lokal. “Mereka justru tidak mengambil jatah ekonomi masyarakat lokal, sehingga interaksi yang terjalin juga tidak ada perselisihan,” kata Hilal. 


Bahasa Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya Arab dan Jawa

Perbedaan lahir melalui proses percampuran budaya yang telah berlangsung berabad-abad. Kini, bahasa Arab bukan hanya menjadi penanda identitas masyarakat etnis Arab di Pasar Kliwon, melainkan sebagai sarana komunikasi lintas komunitas dengan budaya yang berbeda. Lingkungan sosial yang terbentuk di Pasar Kliwon memainkan peran penting dalam setiap prosesnya. Kawasan Pasar Kliwon yang dikenal sebagai pusat interaksi perdagangan dan keagamaan kini menjadi ruang hidup bagi berbagai latar belakang budaya. Dalam konteks ini, bahasa menjadi salah satu ruang pertemuan yang paling nyata, kedua budaya yang terjalin di dalamnya berpadu dan membentuk dialek yang menjadi ciri khas di kawasan Pasar Kliwon. Bentuk akulturasi itu terlihat jelas dalam penggunaan bahasa sehari-hari masyarakat etnis Arab. Dialek yang digunakan masyarakat etnis Arab tidak sepenuhnya mengikuti lidah Arab, tetapi juga tidak sepenuhnya Jawa. 


Dialek masyarakat etnis Arab di Kampung Arab Pasar Kliwon memang berbeda dengan dialek Arab di tanah asal mereka. “Secara kosakata masih Arab, tapi dialeknya sudah mengikuti masyarakat lokal di sini,’’ tutur salah satu warga Pasar Kliwon, Samy, dalam wawancaranya. Adapun pandangan lain yang mengatakan beberapa di antara masyarakat etnis Arab di Pasar Kliwon mampu berbicara dengan dialek Arab. Dikutip melalui jurnal milik Arief Nur Rahman Al Aziiz dan Muhammad Irwan “Phonological Variation of Pasar Kliwon Arabic Dialect Surakarta”, menjelaskan bahwa masyarakat etnis Arab yang tinggal di Pasar Kliwon mampu mengucapkan dan berbicara dengan dialek arab. Bahkan, Pasar Kliwon disebut sebagai pusat perkembangan bahasa Arab di Kota Solo. 


Seiring berjalannya waktu, bahasa dan dialek di Kampung Arab Pasar Kliwon menjadi bagian dari warisan budaya yang unik. Ia tak hanya menggambarkan bagaimana masyarakat etnis Arab mampu mempertahankan unsur dari bahasa para leluhur sembari menyesuaikannya dengan karakter sosial yang ada pada budaya Jawa. Di satu sisi, dialek menjadi simbol keterbukaan dan penerimaan antarbudaya yang terjalin di dalamnya. Identitas budaya di Kampung Arab Pasar Kliwon terus bergerak, tidak secara statis, tetapi hasil dari sejarah panjang yang lahir dari perjumpaan dan penyesuaian yang saling melengkapi. 



Wujud Akulturasi Budaya dalam Arsitektur Rumah Etnis Arab di Pasar Kliwon

Akulturasi budaya Arab dan lokal juga dapat dilihat melalui gaya bangunan. Di kampung Arab Pasar Kliwon, prinsip bahwa elemen arsitektur memuat nilai, simbol, dan identitas sosial sangat jelas. Rumah-rumah yang terlihat di wilayah Kampung Arab Pasar Kliwon memadukan nilai religius, adat sosial, dan juga percampuran dengan iklim tropis Jawa. “Rumah orang etnis Arab di sini berbeda dengan masyarakat lokal,’’ ujar Samy, salah satu warga Kampung Arab Pasar Kliwon. Sebagaimana dijelaskan oleh Najmi Muhammad Bazher dalam penelitiannya yang berjudul “Arabic Ethnic Houses in Kampung Arab Pasar Kliwon as the Product of Acculturation’’, rumah-rumah etnis Arab di kawasan Pasar Kliwon ini mencerminkan eklektisisme arsitektur—yakni perpaduan antara elemen rumah khas Yaman, arsitektur Islam, rumah tropis Indonesia, serta arsitektur kolonial belanda yang menyatu dalam pola ruang, interior, dan eksterior-nya. 


Menurut Bazher dalam jurnal penelitiannya, rancangan dan penataan rumah tinggal etnis Arab dapat dikatakan sebagai budaya keseharian masyarakat Arab yang dibawa sejak migrasi ke Indonesia. Nilai keagamaan dan sosial tidak hanya diwujudkan dalam perilaku, melainkan juga diimplementasikan melalui desain ruang yang merepresentasikan cara hidup islami dan kearifan lokal. Ciri khas arsitektur rumah tinggal di Arab khususnya di Yaman dapat dilihat dengan keberadaan pintu samping, courtyard, perabot berupa karpet atau amben, serta foto keluarga pada rumah tua etnis Arab. “Kalau rumah etnis Arab di Pasar Kliwon biasanya temboknya tinggi-tinggi dan gerbangnya punya corak khas,” ujar Samy. Adapun, ciri khas budaya Arab lainnya dalam arsitektur rumah di Indonesia terlihat dari adanya pintu butulan, ruang usaha di bagian depan rumah, serta foto ulama atau habib yang terpajang di dinding. 


Akulturasi gaya bangunan budaya Arab juga dapat dilihat pada bangunan masjid. Masjid-masjid di Pasar Kliwon, seperti Masjid Assegaf dan Masjid Riyadh, banyak mengadopsi gaya arsitektur Madinah—menara tinggi, kubah besar, ornamen interior yang megah. “Masjidnya lebih mengikuti gaya Arab, banyak pernak-pernik, jadi kelihatannya fancy dan mewah, sama seperti rumah-rumahnya,” terang Samy. 


Perpaduan unsur budaya Arab, Islam, Jawa, dan kolonial Belanda menjadikan arsitektur  di Pasar Kliwon lebih dari wujud keindahan visual, melainkan sebagai bentuk akulturasi budaya yang erat. Setiap bangunan rumah dengan gerbang yang tinggi, ukiran kaligrafi, dan bangunan masjid yang megah menjadikan Solo sebagai ruang pertemuan berbagai budaya dengan tradisinya. 


Keunikan Kampung Arab Pasar Kliwon: Jejak Budaya yang Menyatu dalam Kehidupan

Bagi masyarakat Pasar Kliwon, kawasan ini bukan hanya sekadar pemukiman etnis, tetapi sebagai potret harmoni budaya yang hidup di tengah kota. Nilai religius akan sangat terasa paling kuat ketika bulan Ramadan tiba, masjid-masjid penuh dengan jamaah yang hadir, dan suasana spiritual yang begitu kental. Tradisi gotong royong masyarakat sekitar ketika mengadakan sebuah acara sangat terjaga “Kalau di Solo ini, keunikan yang paling terlihat menurut saya adalah ketahanan pangan nya,’’ ujar Samy “Makanan yang disajikan selalu gak pernah habis, kalau habis langsung direfill, berbeda dengan daerah lain yang pernah saya datangi,” tambahnya. Pemandangan sehari-hari di kawasan ini menghadirkan nuansa Arab yang khas dan begitu kuat. Berdasarkan pernyataan Samy, warga Pasar Kliwon terutama masyarakat etnis Arab kerap kali mengenakan baju putih, peci putih, dan tak jarang terlihat berboncengan sekeluarga. “Justru itu yang bikin vibes Arab banget,” kata Samy. terdengar sederhana, tetapi di situ lah bagian dari identitas yang sudah ada dari dulu. 


Selain dikenal dengan nilai keagamaannya, Pasar Kliwon juga memiliki perekonomian yang mandiri. Beberapa pusat perdagangan di sekitar Pasar Kliwon diisi oleh tekstil, minyak wangi, dan kuliner khas Arab. Hal ini diperkuat dengan jurnal milik Naniek Widayati Priyomarsono, dkk dengan judul “Identifikasi Kampung Arab Pasar Kliwon Surakarta” jurnal ini memperjelas beberapa di antara keunikan yang dimiliki Kampung Arab Pasar Kliwon adalah pusat aneka kurma dan toko oleh-oleh haji, penjual dan rumah produksi mukena dan aneka baju muslim, hingga aneka kuliner kambing. Menariknya, keunikan dari akulturasi budaya Arab dan Jawa dapat dilihat juga dengan cita rasa yang hadir di setiap kuliner Pasar Kliwon, contohnya ada pada kuliner nasi kebuli yang sudah tercampur dengan cita rasa khas Indonesia, “Kalau di sini mungkin di tambahin kayak bawang, dan sambal. Rasanya pun sudah bercampur asin dan manis,’’ ujar Samy. Adapun keunikan lainnya adalah masjid ikonik di Pasar Kliwon, Masjid Assegaf dan Masjid Riyadh. Keduanya kerap kali didatangi pengunjung untuk wisata religi dari berbagai daerah.


Keunikan yang dimiliki Kampung Arab Pasar Kliwon menarik banyaknya wisatawan yang datang. Tak hanya warga Solo setempat, tetapi pengunjung dari luar kota kerap kali ditemukan. Keberadaan tempat ibadah, aktivitas perdagangan yang dinamis, dan ragam kuliner bercita rasa Timur Tengah menjadikan Kampung Arab Pasar Kliwon lebih dari sekadar permukiman etnis, melainkan ruang budaya yang hidup di dalamnya. Di setiap sudut jalan Kampung Arab Pasar Kliwon, terekam bagaimana nilai keagamaan, ekonomi, dan cita rasa kuliner bersatu. 


Comments


bottom of page