top of page

Haul Habib Ali: Warisan Religius yang Terus Hidup

  • Writer: Irfan Rahardian
    Irfan Rahardian
  • Jun 3
  • 6 min read


Asal-usul dan Perkembangan Tradisi Haul Habib Ali


Kerumunan jamaah pada rangkaian acara Haul Solo yaitu Rauhah. Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva
Kerumunan jamaah pada rangkaian acara Haul Solo yaitu Rauhah. Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva

SOLO, GemaKata - Dengan keberagaman etnisnya, Kota Solo merupakan wilayah yang kaya akan warisan budaya. Masyarakatnya yang multikultural melestarikan berbagai tradisi, seperti Sekaten, Grebeg Maulud, Kirab Pusaka Satu Suro, dan pertunjukan wayang kulit. Salah satu warisan budaya yang menonjol dan terus hidup di kota ini adalah Haul Habib Ali atau lebih dikenal dengan Haul Solo, sebuah tradisi keagamaan yang telah menjadi bagian dari kalender event resminya. Haul Solo merupakan tradisi yang diselenggarakan tiap tahunnya di Kampung Arab Solo, lebih tepatnya Haul Habib Ali diselenggarakan bertepatan sekitar 19-21 Rabiul Akhir dalam kalender Hijriyah. Dalam jurnal berjudul Haul Solo Tradition: Structural-Functional Analysis for the Harmonization of Multicultural Society in Surakarta, karya Hafidz Al Aziz, Riadi Syafutra Siregar, dan Yosafat Hermawan Trinugraha, istilah “Haul” berarti sebuah upacara untuk memperingati wafatnya tokoh agama. Tradisi ini sendiri merupakan hasil akulturasi kebudayaan Islam dan Jawa, jadi haul adalah praktik kebudayaan dan religi untuk memperingati wafatnya tokoh terkenal dalam agama Islam. Haul Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, atau yang akrab disapa Haul Habib Ali, adalah warisan religius yang tidak hanya bertahan, tetapi terus bertumbuh, dan menyatu sebagai salah satu warisan Kota Solo. 


Pada awalnya, tradisi Haul Habib Ali tidak setenar seperti saat ini. Akar tradisi ini berawal dari sekitar 80 tahun yang lalu diprakarsai oleh Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, putra dari Habib Ali, yang sedang diselimuti duka setelah setahun wafatnya seorang guru dan ayahanda. Pada masa itu, haul hanyalah perkumpulan intim dan sunyi yang hanya diikuti 15 sampai 20 orang meliputi murid, keluarga, dan pengikut setia. 


"Haul sudah ada sejak puluhan tahun lalu, sejak Habib Alwi hidup sudah dilaksanakan. Tapi banyak yang belum tahu karena pengikutnya sedikit, banyak yang mengira tidak ada”  Ujar manajer harian Masjid Assegaf, Ustaz Ali Abdul Razak Sungkar.


Namun, mulai ketika kepemimpinan majelis beralih kepada Habib Anis bin Alwi bin Al-Habsyi atau lebih dikenal Habib Anis atau The Smiling Habib, nama Haul Solo mulai terdengar lebih di berbagai daerah. Momentum ledakan jamaah Haul Solo meningkat setelah wafatnya Habib Anis pada tahun 2006. Sejak itulah, rombongan jamaah mulai meningkat hingga saat ini. 

"Puncak booming-nya memang setelah Habib Anis wafat. Pesertanya terus bertambah sampai sekarang," tambah sang Ustaz Ali.


Pemerintah kota Solo kemudian mencatat tahun 2010 sebagai tahun dimana meledaknya Haul Solo. Melihat potensi dan tingginya minat masyarakat, pada tahun 2014 Pemkot resmi mengelola acara ini, mencatat acara ini sebagai event tahunan resmi kota solo yang menarik perhatian dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari Yaman, Arab Saudi, dan Malaysia.

Tradisi Haul Solo tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai rintangan. Pada tahun 2020, tradisi ini menghadapi sejumlah tantangan, sebagaimana dilaporkan oleh panitia pelaksana dan juga pengikutnya. Menanggapi kebijakan pemerintah pusat yang membatasi kegiatan sosial akibat pandemi Covid-19, tradisi Haul Solo dilaksanakan secara tertutup. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Haul Solo 2020 hanya dihadiri oleh beberapa puluh jamaah dan anggota keluarga dekat. Demikian pula, tradisi Haul Solo tahun 2021 juga dilaksanakan secara tertutup, namun karena penyebaran informasi dari mulut ke mulut, jumlah jamaah yang hadir meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mengatasi masalah tersebut, panitia pelaksana Haul Solo memberikan solusi dengan melaksanakan Haul secara hybrid via live streaming di platform seperti YouTube. Mulai di tahun 2022, pelaksanaan Haul dilaksanakan secara normal kembali. Walau masih beradaptasi dari dampak tahun-tahun sebelumnya, kerinduan para jamaah terhadap Haul tidak bisa dibendung yang mengakibatkan lonjakan jamaah pada tahun tersebut.


Rangkaian dan Keunikan Tradisi Haul Solo

Tradisi Haul Solo memiliki keunikan dibandingkan tradisi haul di daerah lain, karena dilaksanakan selama lima hari berturut-turut dengan rangkaian acara yang beragam. Pada awal dilaksanakannya Haul, rangkaian acaranya hanya terdiri dari dua inti yaitu, Haul dan Maulid. Namun karena jumlah jamaah yang tiap tahunnya bertambah, rangkaian acara ditambah menjadi lima hari.


"Dulu haul hanya haul dan maulid saja. Tapi karena hadirin makin bertambah, jadi ditambahkan acara Rauhah," jelas dosen Sosiologi FISIP UNS, Rezza Dian Akbar SIP., M.Sc.

  Mulai hari pertama sampai hari ketiga, jamaah mengikuti pembelajaran dan aktivitas keagamaan termasuk membaca hadis para Rasul. Menurut Ustaz Ali yang merupakah salah satu narasumber, kegiatan tersebut dijuluki “Rauhah” diperkenalkan oleh para Habaib Hadramaut untuk merujuk pada sistem pendidikan non-formal ini. Pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan Rauhah selalu menggunakan kitab ataupun buku sebagai rujukan pembelajaran. Pada malam hari kedua setelah Rauhah, juga terdapat pertunjukan tarian Yaman yang diiringi musik gambus. Hari keempat menjadi puncak acara Haul, yang meliputi pembacaan Yasin, Tahlil, Manaqib, dan Tausiah, serta ditutup dengan doa. Pada hari berikutnya, memasuki hari terakhir dengan pembacaan wirid, ratib, Maulid Simtudduror yang diiringi hadrah, tawasul, dan ditutup dengan doa. Kitab Maulid Simtudduror dikarang langsung oleh Habib Ali Al-Habsyi sebagai media untuk mengingat serta meneladani nilai-nilai akhlak Nabi Muhammad SAW. Dalam kitab Maulid Simtudduror, terdapat ayat-ayat yang mengekspresikan rasa cinta untuk Nabi Muhammad SAW. Bahasa yang digunakan menggambarkan bagaimana cintanya Habib Ali kepada Rasul. Dari kitab ini, Habib Ali ingin mengajarkan dan menceritakan kehidupan Nabi Muhammad SAW dan mengajak para pengikutnya Untuk lebih mencintainya sebagai role model


Peran Keluarga Habib Ali dan Struktur Panitia

Dalam tradisi Haul Solo, keluarga dari keturunan Habib Ali berperan sebagai tuan rumah penyelenggara. Berdasarkan status keturunan tersebut, keluarga bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara, termasuk menentukan tanggal, pendanaan, menentukan kitab yang akan dibaca, dan memimpin setiap rangkaian acara. Panitia yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan tradisi Haul Solo tidak terbuka untuk umum karena memang bersifat sakral dan memiliki kriteria tertentu. Oleh karena itu, tidak semua anggota masyarakat berhak menjadi bagian dari panitia penyelenggara. Namun, keterlibatan masyarakat setempat tetap hadir dalam setiap penyelenggaraan Haul. 


Orang yang datang ke haul otomatis jadi tamu masyarakat lokal, banyak yang membukakan rumah, untuk tempat singgah” Ucap warga setempat, Sammy bin Nukman Nahdi.

Bisa dikatakan kalau peran masyarakat juga ikut hadir pada acara Haul Solo, banyak yang menyambut jamaah pendatang, banyak juga yang memberikan makanan demi mencari berkah, dan masih banyak lagi. 


Lapak berjualan warga sekitar Pasar Kliwon pada acara Rauhah Haul Solo. Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva
Lapak berjualan warga sekitar Pasar Kliwon pada acara Rauhah Haul Solo. Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva

Partisipasi Masyarakat dan Dukungan Pemerintah

Tentu sebagai acara yang besar dan terkenal, tidak luput juga dari penan pemerintah setempat seperti Pemkot Solo. Sebagai pembuat kebijakan daerah, pemerintah berperan dalam memastikan kelancaran penyelenggaraan tradisi Haul Solo. Menurut beberapa narasumber, tanggung jawab pemerintah dalam acara Haul antara lain, mengurus perizinan, membuat regulasi untuk menjaga ketertiban jamaah, hingga pemberian dana.  Hal ini tampak dari adanya pengalihan arus lalu lintas di sekitar Pasar Kliwon untuk mengantisipasi kemacetan dan memastikan para jamaah agar lebih teratur. Selama tradisi Haul Solo, sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang biasanya satu arah, diubah menjadi dua arah. Selain itu, pemerintah daerah juga menutup beberapa jalan di sekitar Pasar Kliwon guna mendukung kelancaran penyelenggaraan rangkaian Haul Solo. Penutupan jalan ini dimanfaatkan sebagai lokasi berdagang, tempat para jamaah mengikuti haul, hingga lokasi parkir. Dengan demikian, pemerintah daerah mendukung tradisi Haul Solo melalui kebijakan yang memastikan kelancaran setiap rangkaian acara.


Tradisi Haul Solo memenuhi kebutuhan spiritual para jamaah. Dalam setiap rangkaian acara tradisional, para jamaah mendapatkan pengetahuan keislaman. Sebagai contoh, mereka turut berpartisipasi dalam kegiatan Rauhah. Kegiatan ini sangat berharga bagi para jamaah, yang memandang tradisi Haul Solo sebagai kesempatan untuk memperkuat keimanan dan pengetahuan keislaman mereka. Para ulama yang memberikan pendidikan juga merupakan sosok yang sangat dihormati dan terkenal, serta ajaran mereka tersebar luar. Para jamaah senantiasa diingatkan akan pentingnya mempelajari agama, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan persaudaraan antar sesama umat. 


Biasanya yang mengisi ceramah di haul bermacam-macam, ada ulama yang dari yaman langsung, ada juga habib dari kampung arab yang ada di kota lain misalnya habib dari ampel Surabaya, wah banyak yang pasti ulama-ulama terkenal,” menurut kesaksian dosen Sastra Arab FIB UNS, Alif Al Hilal Ahmad S.S., M.A. 


Nilai Spiritual dan Sosial Haul Solo

Haul Solo telah diselenggarakan sebanyak 112 kali dan memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat. Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Haul Habib Ali telah bertransformasi menjadi sebuah fenomena sosio kultural yang berperan sebagai perekat sosial yang menyatukan dinamisnya budaya di Kota Solo. Dalam acara ini, warga lokal baik keturunan Jawa, Arab, dan pendatang dari seluruh Indonesia bertemu dalam satu ruang. Mereka tidak hanya berkumpul secara fisik, tetapi juga terhubung melalui acara haul itu sendiri. Perasaan harmonis sangat terasa setiap Haul Solo digelar, masyarakat yang senantiasa menjadi tuan rumah untuk para jamaah yang hadir sangat mendeskripsikan bagaimana keharmonisan yang acara ini bawa kepada masyarakat Kampung Arab. 


Pada akhirnya, keberlangsungan Haul Solo tidak hanya bergantung pada keluarga keturunan Habib Ali saja, tapi juga butuh dukungan dari semua pihak maupun dari pengurus, masyarakat, dan pemerintah kota. Tradisi yang telah tumbuh menjadi begitu besar ini membutuhkan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan. Masyarakat sekitar terus menjadi tuan rumah yang ramah, membuka rumah dan menyediakan kebutuhan jamaah, yang menjadi penopang vital keramahan tradisi ini. Sementara itu, peran Pemerintah Kota Solo melalui dukungan perizinan, pengaturan lalu lintas, dan pengamanan menjadi fondasi yang memastikan acara berjalan lancar. Sinergi para pihak inilah kunci utamanya. Haul Solo telah membuktikan bahwa sebuah tradisi keagamaan tidak hanya soal ritual, melainkan juga bisa menjadi jembatan emas yang dalam waktu bersamaan merawat kerukunan antarumat beragama dan menggerakkan roda perekonomian warga kecil. Keberhasilannya mempertahankan nilai spiritual sambil berdampingan dengan perkembangan zaman menjadikannya contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat tetap relevan dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.


Comments


bottom of page