top of page

Menelisik Jejak Imigran Arab Melalui Bengawan Solo

  • Belva Safina Winasis
  • May 29
  • 6 min read

Updated: Jun 3




Awal Mula Migrasi ke Nusantara sampai Solo dimulai

SOLO, GemaKata - Kampung Arab di wilayah Pasar Kliwon, Kota Solo telah sangat masyhur dan dikenal sebagai salah satu ikon budaya kota dengan dua raja ini. Hingga kini jejak peradaban dan berbagai budaya bangsa arab masih terjaga dengan baik. Berbagai ragam aktivitas di kampung arab tidak sekedar menjadi penanda kegiatan keagamaan tetapi juga sebagai simbol kuatnya budaya dan interaksi antara warga keturunan arab dan kaum pribumi.    


Berdasarkan sejarahnya, jejak awal kedatangan imigran Arab ke Nusantara—sebutan sebelum berdirinya negara Indonesia—salah satunya bermula dari perjalanan mereka menjelajahi tanah Jawa. Di antara banyaknya kota yang sempat disinggahi oleh para imigran, Kota Solo menjadi salah satu wilayah yang menampung gelombang imigran Arab sejak sebelum masa kolonial. Kota ini dinilai sebagai perjumpaan keragaman budaya dari perpaduan etnis Jawa, Tionghoa, dan Arab. Fenomena ini kemudian melahirkan pembentukan struktur sosial yang unik dan menarik untuk dibahas. 


Mayoritas imigran Arab berasal dari satu titik geografis yang sama, yakni Hadramaut di Yaman Selatan. Para imigran Hadramaut atau hadrami datang dari berbagai macam latar belakang, termasuk kasta tertinggi, yakni para sayid yang merupakan seorang keturunan Nabi Muhammad SAW. “Jadi keturunan Nabi Muhammad SAW dulu dianggap berbahaya hingga dibantai-bantai. Jadi mereka kabur ke banyak negara seperti Irak, Hadramaut, Nusantara, dan lain-lain.” ujar Habib Ahmad Assegaf, salah satu Habib setempat di rumahnya pada Sabtu, 20 September 2025.


Kekerasan dan pembantaian yang memicu hijrah besar-besaran dipicu oleh faktor perbedaan ideologi keagamaan yang ekstrem di semenanjung arab. Menurut Dosen Sastra Arab FIB UNS, Alif Al Hilal Ahmad, S.S., M.A, pada saat Arab Saudi mulai didirikan pada tahun 1932, pemerintah kerajaan meminta dukungan dari ulama Muhammad bin Abdul Wahab yang memiliki aliran ingin memurnikan ajaran Islam. Salah satu programnya adalah menghilangkan jejak-jejak sejarah yang intinya tidak sepaham dan tidak sepakat dengan ajaran tasawuf. “Mereka mengajarkan bahwa jejak peninggalan Islam itu harus dihancurkan karena itu jadi sumber bid'ah yang dinilai tidak ada sumber dan dalilnya di Islam," jelas Alif Al Hilal dalam wawancaranya di Solo, 3 Oktober 2025.


Praktik spiritual Tasawuf dan tradisi penghormatan makam wali yang dibawa oleh para sayid ini menjadi salah satu alasan mendasar mengapa Nusantara, yang kala itu terbuka terhadap Islam dan secara kultural akomodatif (berbasis Tasawuf), menjadi tujuan utama pelarian spiritual para imigran Arab. Hal ini kemudian mendorong para imigran arab yang datang ke Nusantara juga melakukan syiar dan dakwah untuk memberikan pemahaman tentang agama Islam melalui pendekatan aktivitas perdagangan. Kedatangan bangsa Arab Hadramaut dimulai sejak terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang  menyebabkan hijrah besar-besaran keturunannya.


Kedatangan Gelombang Pertama : Para Perintis dan Pendakwah

Manajer harian Masjid Assegaf Ustaz Ali Abdul Razaq Sungkar mengatakan “Orang Arab datang ke Nusantara ada beberapa gelombang pertama saat abad 12. Yang awal didatangi bukan Jawa sekarang, sebelumnya justru ke Sumatera, makanya di Palembang, Aceh dan juga di Maluku serta Sulawesi sudah ada prasasti makam nisan Arab di abad ke-12,” ungkapnya.


Pernyataan Ustad Ali dipertegas oleh artikel Hikmawan Saefullah yang menyebutkan bahwa kedatangan para imigran Hadramaut pertama terjadi pada abad ke-13 hingga 15. Kemudian gelombang besar kedua terjadi pada abad ke-17 sampai abad ke-20 yang dilatarbelakangi oleh faktor politik, keamanan, dan ekonomi yang buruk. Tekanan Keadaan mendorong para imigran Arab berbondong-bondong migrasi ke wilayah Asia Tenggara.


Dosen Sosiologi FISIP UNS, Rezza Dian Akbar SIP., M.Sc., menyatakan, “Kondisi ekonomi dan politik yang buruk, menyebabkan Hadrami hijrah ke Asia Tenggara untuk berdagang dan mencari kehidupan yang lebih baik”. “Inilah menjadi landasan gelombang kedua, di mana dorongan ekonomi dan politik menjadi faktor yang lebih dominan daripada tujuan spiritual pada gelombang pertama,” katanya saat di wawancara. 


Gelombang pertama ini, dipercaya didominasi oleh tokoh-tokoh yang mengedepankan spiritual. Di mana mereka ini adalah para pedagang yang sekaligus merangkap perannya menjadi seorang ulama. Para imigran Arab memanfaatkan jalur dagang sebagai jembatan dakwah. Rute perjalanan mereka menuju Nusantara luar biasa. Dimulai dari pelabuhan Hadramaut menyeberangi Samudra Hindia, kemudian menepi sementara ke India dan sampai di Selat Malaka. Ketika sampai di Nusantara para imigran Arab mencari akses ke pusat-pusat kekuasaan kerajaan Jawa. Disinilah awal mula para imigran Arab memulai kehidupannya di Kota Solo, melalui jalur sungai Bengawan Solo.


Dahulu, sungai Bengawan Solo merupakan salah satu jalur perdagangan yang cukup ramai. Letaknya yang strategis menghubungkan antara pesisir utara dan timur Jawa dengan pusat Keraton Kasunan Surakarta. Para imigran Arab ini berlayar ke titik strategis sungai Bengawan Solo, salah diantaranya adalah Bandar Bengawan Semanggi, yang dulu merupakan pelabuhan yang dekat dengan pasar dan logistik kota. Berdasarkan dokumentasi di Sekretariat Daerah (SETDA) Kota Solo, keberadaan Bandar Semanggi diperkuat dengan adanya Taman Bandar Semanggi yang dibangun oleh Pemerintah Kota Solo sebagai pengingat sejarah pelabuhan di tepi Bengawan Solo.


Dalam buku yang berjudul orang Arab di Nusantara karya L.W.C van den Berg dijelaskan,  selain adanya faktor politik, transportasi yang kian terjangkau dan meluasnya pengaruh kapitalisme kolonial menjadikan Nusantara sebagai tujuan yang ideal bagi para imigran Hadramaut untuk memulai kehidupan baru. Sebagian besar imigran Hadramaut adalah seorang laki-laki, mereka dikenal sebagai Hadrami. Kebanyakan dari mereka memutuskan untuk mulai menetap di berbagai pusat perdagangan, sepanjang jalur laut.


Migrasi Arus Besar di Bawah Kendali Belanda

Sistem kolonialisme yang dijalankan turut mempengaruhi seluruh sistem pemerintahan dan seluruh dinamika kehidupan sosial, ekonomi, hingga interaksi warga lokal, termasuk para imigran arab. Dengan sistem yang dipersulit, Belanda berhasil membentuk pola kehidupan sosial yang berpihak pada kepentingan kolonial dan menekan kebebasan masyarakat pribumi maupun para imigran.


Dalam kekuasaannya, Belanda kemudian membagi wilayah pemukiman berdasarkan ras dan etnis. Kebijakan kolonial pada saat itu ditujukan sebagai strategi untuk memudahkan penjagaan dan membatasi hubungan antar kelompok yang dinamakan sebagai Wijkenstelsel atau sistem pemukiman terpisah. Ustaz Ali Abdul Sungkar menegaskan “Penamaan kampung Arab dulu merupakan bagian dari penamaan politik cultuurstelsel”.  Hal ini menunjukkan keselarasan bagaimana kebijakan kolonial turut membentuk identitas sosial masyarakat pada saat itu. 


Wijkenstelsel kemudian diperketat dengan kebijakan lain oleh Belanda yang pada intinya adalah untuk membatasi interaksi intensif mereka dengan warga pribumi agar tidak memicu perlawanan baik agama maupun politik. Kebijakan itu juga ditujukan untuk mempermudah pengawasan dan pemungutan pajak dari para pedagang yang dianggap kaya. Pada gelombang kedua ini banyak imigran Arab bukan dari golongan sayid, dimana fokus dan tujuan utama mereka adalah berbisnis atau berdagang. 


Pasar Kliwon sebagai pusat pemukiman imigran Arab

Seiring berjalannya waktu, arus migrasi para Hadrami sampai ke Kota Solo dan terpusat di satu kawasan yang kini kita kenal sebagai Kampung Arab Pasar Kliwon. Pada awal kedatangannya, para hadrami melakukan aktivitas dengan memanfaatkan aliran Sungai Bengawan Solo sebagai jalur distribusi barang. Sungai terbesar di pulau Jawa itu menjadi awal masuknya para imigran masuk dan akhirnya menetap di kota Solo. Dari sini, para imigran Hadramaut atau masyarakat beretnis arab menjalin hubungan bersama etnis Jawa dan Tionghoa yang telah ada. 


Penempatan imigran Arab di kawasan Pasar Kliwon didukung juga  oleh faktor lain. Ketika dulu pada masa kolonial, wilayah ini dikenal sebagai pusat perdagangan sehingga ramai oleh lalu lintas pedagang dari berbagai penjuru Nusantara. Di tengah itu semua, pedagang Arab menemukan ruang untuk menetap sementara, menunggu kiriman barang dagangan mereka yang datang dari luar. Kawasan ini dipilih oleh Belanda karena posisinya yang relatif dekat dengan Keraton Kasunanan, menjadikan etnis Arab sebagai kelompok pedagang yang penting dan mudah diawasi.


Aktivitas yang padat dipenuhi dengan singgahan para imigran Arab yang perlahan-lahan berubah menjadi rumah tinggal untuk mereka. Pasar Kliwon kemudian menjadi kawasan yang mempunyai arti penting bagi para imigran Arab. Keterpencilan yang dipaksakan Belanda justru diubah menjadi kawasan yang strategis oleh imigran Arab. Semua hal terkait perdagangan, sosial, dan keagamaan etnis Arab terpusat di sini. Di tengah pembatasan kolonial yang ketat, penempatan terpusat di Pasar Kliwon juga memainkan peran penting dalam upaya mereka untuk menjaga garis keturunan (nasab). Dengan hidup berdampingan di wilayah yang sama. Secara inklusif mereka mengendalikan interaksi dan pernikahan, memastikan bahwa warisan sayid yang dibawa dari gelombang pertama tetap lestari hingga masuknya imigran pada gelombang kedua.


Sementara itu, aktivitas yang padat disertai dengan singgahan para imigran perlahan berubah menjadi rumah tinggal mereka. Hubungan dagang yang akrab dengan masyarakat lokal membuka jalan bagi terbentuknya ikatan sosial dan kekerabatan. Dari interaksi yang biasa dan hanya sebatas urusan perdagangan, kemudian membuka jalan baru akulturasi budaya yang lebih dalam antara masyarakat Arab dan Jawa.


Pasar Kliwon hari ini bukan hanya sebatas pemukiman biasa, melainkan sebuah monumen yang terus hidup menggambarkan sejarah kedatangan dan jejak budaya imigran Arab. Setiap sudutnya mempunyai cerita tentang perjalanan ribuan hingga ratusan kilometer, ketangguhan para imigran Arab dan upaya mereka untuk terus mempertahankan identitasnya. Jejak kaki para imigran Arab menjadi abadi, mulai dari pelabuhan bandar tepi sungai Bengawan Solo hingga sampai ke jiwa Kampung Arab Pasar Kliwon yang kita kenal saat ini.


Comments


bottom of page