top of page

Satu Suapan, Seribu Kenangan

  • Writer: Irfan Rahardian
    Irfan Rahardian
  • May 21
  • 7 min read

Updated: Jun 3


Es Dawet Bu Dermi. Sumber: Dokumentasi Pribadi/Belva Safina Winasis
Es Dawet Bu Dermi. Sumber: Dokumentasi Pribadi/Belva Safina Winasis

SOLO, GemaKata - Kota Solo bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Tengah. Bagi mereka yang pernah singgah, Solo adalah sebuah perasaan. Perasaan yang muncul dari kepulan asap di sudut trotoar, aroma bawang putih yang digoreng di atas wajan besi, hingga gurihnya santan yang diperas dengan tangan penuh cinta. Di kota ini, makanan bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi sebuah upaya merawat ingatan. Ada narasi panjang yang tersaji di atas piring, sebuah sejarah yang bertahan melewati dekade, krisis ekonomi, hingga perubahan selera zaman.


Es Dawet Bu Dermi


Satu mangkuk es dawet Bu Dermi. Sumber foto: Dokumentasi/Belva Safina Winasis
Satu mangkuk es dawet Bu Dermi. Sumber foto: Dokumentasi/Belva Safina Winasis

Perjalanan mencari kenangan ini dimulai dari jantung Kota Solo, yaitu Pasar Gede Hardjonagoro. Ditengah kesibukan Pasar Gede, terselip sebuah sudut yang menyajikan semangkuk Es Dawet yang menyatukan rasa gurih, manis, dan segar. Di sana sejak tahun 1930an,  sebuah toko kecil legendaris bernama Es Dawet Telasih Bu Dermi yang terus eksis hingga saat ini.


Kini Es Dawet Bu Dermi dikelola oleh generasi ketiga dan masih konsisten menjaga kesegaran semangkuk kecil es dawet. Rahasianya bukan pada perubahan, melainkan pada kesetiaan. Dalam semangkuk es dawet terdapat ketan hitam, jenang sumsum, tape ketan, gula cair, santan, es batu, dan tentu saja biji telasih yang menjadi ikonnya. Keunikan bahan-bahan inilah yang membedakan es dawet telasih dari es dawet pada umumnya yang biasanya menggunakan cendol berwarna hijau dengan kuah santan dan gula merah.

Es Dawet Bu Dermi sangat populer di Pasar Gede, tiap harinya penjualan bisa mencapai 250 porsi per hari. Harga semangkuk es dawet sendiri adalah Rp17.000-.  Es Dawet Bu Dermi buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Untuk menemukan lapak Es Dawet Bu Dermi cukup mudah, berlokasi di dekat pintu barat Pasar Gede dan hanya beberapa langkah dari pintu barat pasar. Es Dawet Bu Dermi wajib kamu kunjungi untuk mencari kesegaran di tengah kepadatan Pasar Gede.  



Lenjongan


Lenjongan Pasar Gede. Sumber: Dokumentasi Pribadi/Irfan Rahardian Wocaksono
Lenjongan Pasar Gede. Sumber: Dokumentasi Pribadi/Irfan Rahardian Wocaksono

Masih di dalam Pasar Gede, letaknya tak jauh dari lapak Bu Dermi, berderet tampah besar menyajikan warna-warni yang memanjakan mata. Inilah Lenjongan Yu Sum. Jika ada makanan yang bisa mendeskripsikan keberagaman namun tetap harmonis, Lenjongan adalah jawabannya. Terdiri dari beberapa kumpulan jajanan tradisional berbahan dasar singkong dan ketan seperti, tiwul, gatot, cenil, klepon, jadah blondo, hingga sawut. 


Lenjongan adalah simbol ketahanan pangan masa lalu yang sudah berubah menjadi kudapan  sederhana di hati masyarakat. Setiap bagian dalam lenjongan memiliki tekstur berbeda, ada yang kenyal, ada yang kasar, ada yang lembut. Semuanya menyatu dengan

taburan kelapa parut dan sraman gula jawa yang manis dan kental. 


Harganya sangat bersahabat, satu porsi lenjongan dengan segala isinnya dipatok hanya Rp6.000-. Cemilan favorit warga Solo, Lenjongan Yu Sum sudah eksis sejak sekitar tahun 1980-an. Kuliner ini bertahan puluhan tahun karena ia murah namun tidak murahan. Mayoritasnya, kuliner ini digemari Ibu-ibu hingga Bapak-bapak. Setiap pagi, banyak Ibu-ibu yang berbelanja di pasar kemudian mampir ke lapak kuliner manis ini. Menikmati Lenjongan di pagi hari sembari melihat ramainya aktivitas di Pasar Gede memberikan perspektif baru. Jika kalian masih berada di sekitar Pasar Gede, Lenjongan Yu Sum sengat cocok untuk menjadi pemberhentian untuk kalian coba.


Tahu Kupat Gajah Mada


Warung Tahu Kupat Sido Mampir. Sumber foto: tripadvisor.co.id
Warung Tahu Kupat Sido Mampir. Sumber foto: tripadvisor.co.id

Beranjak dari Pasar Gede, kami bergeser sedikit ke arah Jalan Gajah Mada. Di sana, ada sebuah warung sederhana yang sudah melegenda, Tahu Kupat Sido Mampir. Warung ini bukan sekedar tempat makan, melainkan sebuah nostalgia yang sudah berdiri sejak tahun 70an dan selalu menjadi santapan favorit di jam makan siang. Di warung ini, kesederhanaan bahan disulap menjadi sebuah hidangan yang membuat orang mencarinya disaat cuaca Solo sedang terik-teriknya. 


Tahu Kupat Sido Mampir memiliki karakteristik yang kuat pada kuahnya. Berbeda dibandingkan tahu kupat yang ada di daerah lain yang mungkin lebih mencolok pada bumbu kacang yang kental, di Sido Mampir ini lebih menonjolkan kuah kecap yang encer namun sangat kaya akan rempah. Tahu Kupat Sido Mampir terbuat dari tahu goreng, kubis, mie, bihun, bakwan, ketupat, aoge, dan terakhir disiram dengan kuah bumbu kecap dan minyak bawang. Aroma bawang putih tercium samar dalam setiap suapan kuahnya. Taburan kacang tanah goreng dan bawang goreng yang memberikan sensasi renyah di setiap suapan.


Hal kecil yang membuat warung Sido Mampir terus bertahan adalah konsistensi mereka dalam menjaga kualitas kecap dan cara menggoreng tahu yang tidak berubah. Tahu digoreng dalam kondisi api yang pas membuat bagian luarnya sedikit garing namun dalamnya tetap lembut. Harga per porsi tahu kupat adalah Rp10.000-, dan untuk menambahkan topping telur dadar, cukup dengan membayar tambahan Rp3.000-. Tempat makan ini buka setiap hari mulai dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Lokasinya yang strategis berada di tepi jalan membuatnya mudah ditemukan.


Sate Pak Manto


Warung Sate Kambing Pak Manto. Sumber foto: nasirullahsitam.com
Warung Sate Kambing Pak Manto. Sumber foto: nasirullahsitam.com

Ketika berada di Kota Solo, tidak lengkap rasanya tidak membahas olahan kambing. Di Jalan Honggowoso, ada satu rumah makan yang namanya sering menjadi perbincangan hingga ke luar kota, Sate Kambing Pak Manto. Meskipun namanya “Sate”, primadona sebenarnya adalah Tengkleng Rica. 


Sate Kambing Pak Manto sudah berdiri sejak tahun 1990. Awalnya merupakan kedai kecil di Pasar Kembang Solo, kemudian pindah ke Jalan Honggowoso yang kini menjadi destinasi wisata kuliner favorit di Solo. Tengkleng di sini memiliki karakteristik berbeda, yang biasanya berkuah bening dan ringan, menjadi sajian yang “berani” dengan bumbu rica-rica yang pedas, kental, dan kaya lada. Tidak ada aroma “prengus” kambing, yang tercium adalah harum rempah yang tajam. 


Dari warung tenda kecil hingga menjadi destinasi wajib ketika berkunjung ke Solo, Sate Pak Manto membuktikan bahwa kuliner tradisional bisa menjadi sangat ikonik jika memiliki karakter yang kuat. Bunyi  sutil yang beradu dengan wajan besi di atas bara arang menjadi latar yang dirindukan para pelanggannya. Agar menghasilkan daging kambing yang empuk, Sate Kambing Pak Manto hanya menggunakan kambing Jawa yang gemuk. Kambing yang diolah itu berasal dari peternak kambing di Solo.


Setiap harinya Sate Kambing Pak Manto menjual seribu hingga dua ribu porsi. Bahkan ketika akhir pekan bisa mencapai dua kali lipat. Harga di Sate Kambing Pak Manto umumnya berkisar antara Rp55.000- hingga Rp100.000 per porsi, tergantung menu. Menu andalan seperti Sate Buntel berkisar Rp85.000 hingga Rp108.000, sementara sate kambing biasa sekitar Rp55.000 hingga Rp82.000, dan Tengkleng Rica-rica sekitar Rp85.000. Saat ini Sate Kambing Pak Manto memiliki tujuh cabang di seluruh Indonesia Dari Yogyakarta, Semarang, Bandung, Malang, Bandung, Surabaya dan Jakarta.


Bakmi Jowo Mbah Mangoen


Satu porsi Bakmi Godog Mbah Mangoen. Sumber foto: kuliner.dyantransport.com
Satu porsi Bakmi Godog Mbah Mangoen. Sumber foto: kuliner.dyantransport.com

Saat malam sudah menyelimuti solo, Bakmi Jowo menjadi pilihan yang paling masuk akal. Salah satu warung yang terkenal adalah Bakmi Jowo Mbah Mangoen. Di sini, proses memasak masih menggunakan anglo atau tungku tanah liat dan arang kayu jati. Mengapa harus arang? Karena api dari arang memberikan aroma smokey yang tidak bisa dihasilkan oleh kompor gas. Bakmi godog (rebus) atau bakmi gorengnya dimasuk satu demi satu. Tak ada istilah memasak massal di sini. 


Berdiri sejak 23 Maret 2017, rumah makan ini sangat kental dengan ciri khas konsep tradisional Jawa. Jika melihat restonya, memiliki gaya bangunan yang unik dan mudah ditemukan karena menggunakan kayu dan berbentuk joglo. Kesabaran adalah bumbu rahasia di warung Mbah Mangoen. Campuran telur bebek yang gurih, suwiran ayam kampung, dan kenyalnya mie kuningnya menciptakan rasa yang kompleks di lidah. Menunggu pesanan datang di tengah temaram lampu kuning warung, sambil mengobrol ringan, adalah bagian dari pengalaman makan itu sendiri.


Selain olahan bakmi, warung makan ini juga menyediakan menu lain  seperti nasi goreng, ayam goreng kampung, dan lainnya. Rata-rata menu dibanderol mulai harga Rp25.000 hingga Rp35.000 per porsi. Rumah makan ini buka setiap hari mulai pukul 15.000-24.00 WIB. Jika tertarik, kamu bisa datang ke rumah makan yang ada di Laweyan, Solo. 


Leker Gajahan


Leker Gajahan Solo. Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva
Leker Gajahan Solo. Sumber foto: Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva

Bicara soal camilan di Solo, tak ada yang lebih ikonik daripada Leker Gajahan. Namun, di balik renyahnya tiap gigitan, tersimpan sejarah panjang tentang sebuah rekayasa kuliner yang lahir dari adaptasi kelas sosial. Leker sebenarnya adalah bentuk "salah tafsir" yang sangat lezat dari pancake atau crepes ala Belanda.


Pada masa kolonial, pancake adalah makanan mewah yang hanya tersaji di meja makan para bangsawan dan orang-orang Eropa. Bahan-bahannya yang menggunakan banyak telur dan tepung terigu berkualitas tinggi menjadikannya barang mahal bagi rakyat biasa. Di sinilah kreativitas lokal bermain. Masyarakat pribumi mencoba merekayasa resep pancake tersebut menjadi versi yang lebih hemat atau "ekonomis".


Di kawasan Jalan Padmonegoro, terdapat leker yang terkenal  yaitu Leker Gajahan sejak tahun 1960-an. Bapak Fathuoni, sang pencipta, tetap setia menggunakan arang dan wajan kuningan kecil untuk mempertahankan otentisitasnya. Meskipun lahir sebagai "versi hemat" dari kuliner Eropa, di tangan perajin seperti keluarga Gajahan, leker justru naik kelas menjadi kuliner legendaris yang cita rasanya melampaui kemewahan pancake aslinya. 


Penggunaan api arang memberikan sentuhan aroma smoky dan tingkat kematangan yang merata, sesuatu yang tak bisa ditiru oleh kompor gas modern. Adonannya diputar di atas wajan kecil hingga kering kecokelatan di bagian pinggir, namun tetap menyimpan kelembutan pisang raja dan cokelat di bagian tengahnya. Leker Gajahan adalah bukti nyata bagaimana sebuah pengaruh asing diserap, diolah dengan kearifan lokal, dan bertahan menjadi warisan yang dicintai melintasi zaman.


Es Krim Tentrem


Es Krim Tentre,. Sumber foto: pesenmakan.trenasia.com
Es Krim Tentre,. Sumber foto: pesenmakan.trenasia.com

Sebagai penutup perjalanan rasa ini, kami menuju ke sebuah toko yang sudah berdiri sejak tahun 1952, Es Krim Tentrem. Namanya sendiri sudah menggambarkan Tentrem yang berarti tentram atau damai. Di tengah gempuran es krim pabrikan dan gelato modern, Es Krim Tentrem tetap berdiri tegak dengan gaya klasiknya. Nuansa tokonya masih mempertahankan estetika retro yang kental dan khas. Menu-menu yang ada juga serasa membawa kami ke masa lampau seperti Tutti Frutti, Casablanca, atau Dewi bayu yang juga merupakan nama yang sudah menjadi warisan dan tetap dipertahankan turun-temurun.


Kedai es krim ini menyajikan sangat beragam pilihan es krim sesuai dengan ekspektasi para pecinta es krim. Mulai dari varian es krim klasik seperti rasa cokelat, vanila dan stroberi, sampai dengan beberapa rasa-rasa. Selain itu Es Krim Tentrem juga menyajikan citarasa tradisional yang patut kalian coba seperti es krim rasa kacang hijau, jeruk keprok, kopyor, dan susu jahe. Es krim di sini dibuat secara homemade dengan bahan-bahan alami, tanpa pengawet, sehingga teksturnya terasa sangat ringan. 


Harga yang ditawarkan juga cukup murah dan ramah di kantong mulai di harga Rp12.000 hingga Rp35.000 saja. Toko ini buka setiap hari mulai dari jam 10.00-22.00 WIB. Kalian bisa datang  ke outletnya yang berada di perempatan Ngarsopuro, jalan Slamet Riyadi.


Comments


bottom of page