Rasa Lama, Wajah Baru
- Caren Putri Gracia
- May 22
- 6 min read
Updated: Jun 3

SOLO, GemaKata - Surakarta atau Solo sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa yang kaya, termasuk dalam hal kuliner. Beragam makanan khas seperti timlo, selat solo, hingga dawet bukan hanya sekadar hidangan, tetapi juga representasi nilai, sejarah, dan identitas masyarakatnya. Namun, di tengah arus modernisasi dan perubahan selera generasi muda, kuliner tradisional dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.
Di sinilah transformasi terjadi. Kuliner tradisional Solo kini tidak lagi hanya disajikan dalam bentuk klasik, tetapi mulai beradaptasi melalui inovasi rasa, penyajian, hingga strategi pemasaran. Dari dapur tradisional ke meja makan modern, berbagai pelaku usaha kuliner di Solo mencoba “menghidupkan kembali” warisan rasa dengan pendekatan yang lebih segar dan kekinian.
Inovasi Rasa dan Presentasi: Tradisi yang Diinterpretasi Ulang
Salah satu contoh menarik dapat ditemukan di Among Restaurant. Restoran yang berlokasi di Jl. Kebonan, RT.003/RW.005, Gandekan, Kec. Jebres, Kota Surakarta ini hadir dengan konsep “Reimagine Javanese Savour”, yang secara harfiah berarti mengimajinasikan kembali cita rasa Jawa. Dibuka pada Mei 2025, Among Restaurant mengusung pendekatan fusion dengan menggabungkan resep tradisional dan teknik memasak modern. Menu-menu yang ditawarkan tidak sekadar mengulang resep lama, tetapi memberikan interpretasi baru yang unik. Misalnya, Asem Asam Esem yang terinspirasi dari sayur asem-asem, diolah menggunakan daging sapi bagian paha bawah yang lembut. Ada juga Mie Sapi Age, yang menghadirkan rasa Javanese miso (tauco) khas Jawa lengkap dengan sate tenderloin berbumbu age.
Eksplorasi lain terlihat pada Rawon Ikan, di mana rawon yang identik dengan daging sapi diubah menjadi konsome berbasis ikan fillet. Sementara itu, di tempat ini Buntel Terik dihidangkan citarasa kuah santan kental dan bumbu yang kuat pada resep terik dihadirkan dengan ayam sous vide. Tidak hanya makanan utama, bagian dessert juga diolah sedemikian rupa untuk menghadirkan cita rasa tradisional namun dengan sentuhan yang lebih modern, seperti Creme Brulee Tape, sajian dessert creme brulee dengan citarasa tape singkong, dan Teh Kampul Cake yang terinspirasi dari citarasa es teh kampul Solo dalam sajian dessert cake wingko kelapa.
Selain rasa, penyajian juga menjadi kunci. Setiap hidangan dirancang agar menarik secara visual, menjadikannya “Instagram-worthy”. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman makan kini tidak hanya soal rasa, tetapi juga estetika dan pengalaman visual yang dapat dibagikan di media sosial. Di sini, tradisi tidak diulang melainkan “diterjemahkan ulang” menjadi pengalaman yang relevan dan visual yang memikat.
Sama halnya dengan Among Restaurant, Kale Locale hadir sebagai ruang kuliner lain yang mengusung semangat serupa, mengawinkan cita rasa lokal dengan sentuhan modern. Berlokasi di Jalan Setono No.150, Laweyan, Surakarta, tempat ini menghadirkan pengalaman yang tak hanya soal rasa, tetapi juga suasana. Unsur kelokalan terasa kuat, namun dikemas dalam tampilan yang segar dan relevan bagi generasi muda.
“Tempatnya sendiri aesthetic, gen z banget, tapi tetap Solo banget juga,” ujar Aurellya Gerda, salah satu pengunjung. Ia menggambarkan Kale Locale sebagai kafe dengan nuansa sederhana layaknya rumah tradisional Solo. Ketertarikan Aurellya Gerda untuk datang ke Kale Locale adalah dari kesan “rumahan” yang terasa hangat pada setiap sajian. Baginya, hidangan di tempat ini tidak hanya terasa homemade, tetapi juga diolah dengan pendekatan yang membuat makanan tradisional tampil lebih berkelas. Sentuhan tersebut menghadirkan pengalaman baru yang akrab di lidah, namun berbeda di mata. Tak hanya soal rasa, suasana yang dihadirkan juga menjadi alasan lain. Dengan nuansa yang tenang dan intim, Kale Locale dirasanya cocok menjadi ruang untuk berkumpul dalam lingkar kecil baik bersama teman dekat maupun pasangan.
Di tengah arus modernisasi kuliner Solo, Kale Locale hadir sebagai ruang eksplorasi rasa yang tidak terpaku pada pakem tradisional. Restoran ini secara konsisten menghadirkan menu berbeda di setiap season, memadukan cita rasa lokal dengan sentuhan kontemporer. Pada momen Ramadan 2025, misalnya, Kale Locale menyajikan paket menu yang mereinterpretasi hidangan Nusantara seperti brisket balado, cumi bakar belacan, hingga rica bakar, yang dipadukan dengan elemen inovatif seperti Brem Azuki Ice Cream, yaitu ogura ice cream yang dipadukan dengan brem dan strawberry mawar marmalade, dan es teh asam jawa sebagai minuman penyegar bernuansa tradisional. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana kuliner khas dapat bertransformasi tanpa kehilangan akar identitasnya.
Bagi Aurellya, salah satu menu yang paling membekas adalah es teh asam jawa. Ia menggambarkannya sebagai minuman yang terasa sangat segar, dengan karakter rasa yang unik dan berbeda dari es teh pada umumnya. Tak hanya pada minuman, Aurellya juga menyoroti bagaimana Kale Locale mengemas menu makanannya dengan tampilan yang lebih menarik dan berkelas. Hidangan seperti rolade Solo, misalnya, disajikan dengan presentasi yang mengingatkan pada restoran bintang lima, rapi, estetis, dan menggugah selera, namun tetap mempertahankan cita rasa otentik yang akrab di lidah. Menurut Aurellya, pendekatan inovatif seperti yang dihadirkan Kale Locale justru membuat kuliner tradisional Solo terasa lebih hidup dan relevan. Sebagai bagian dari generasi Z, ia mengakui bahwa tampilan dan pengalaman visual turut memengaruhi ketertarikannya terhadap makanan.
“Karena biasanya kalau makanan tradisional disajikan biasa saja, kadang sudah terkesan membosankan dan jadi malas mencoba. Tapi ketika dikemas lebih menarik dan instagramable, justru jadi lebih menggugah untuk dicoba,” ujarnya.
“Kalau cari tempat makan yang tradisional tapi tidak terasa kuno atau pasaran, Kale Locale jadi pilihan yang cocok. Tempatnya gen z banget,” ujar Aurellya.
Di tengah perubahan selera dan gaya hidup, pendekatan ini menjadi kunci: menjaga rasa tetap otentik, sambil membungkusnya dalam pengalaman yang lebih segar, visual, dan personal. Pada akhirnya, modernisasi bukanlah ancaman bagi kuliner tradisional, melainkan jembatan yang membuatnya terus hidup dan mungkin, justru semakin dicintai.
Dari Jamu ke Dessert: Wajah Baru Kuliner Solo
Transformasi kuliner Solo tak hanya berhenti pada tampilan dan penyajian, tetapi juga merambah ke gaya hidup yang lebih sehat dan eksploratif. Djampi Jawi Solo, misalnya, menjadi salah satu pelopor dengan konsep wellness tourism sejak 2021. Berlokasi di Jl. Letjen S. Parman No.45, Kestalan, Banjarsari, Surakarta, restoran ini menghadirkan menu tradisional dengan pendekatan kesehatan, termasuk pilihan gluten-free. Sajian seperti Timlo Prawira yang dikemas menyerupai ramen menghadirkan pengalaman makan yang terasa akrab bagi generasi muda, tanpa meninggalkan akar rasa lokalnya.
Inovasi juga merambah ke ranah minuman tradisional. Beras Kencur Next Level yang dipadukan dengan susu dan gula aren karamel, serta Es Dawet Mega Mendung dengan sentuhan krimer dan nangka, menunjukkan bagaimana minuman klasik dapat “naik kelas” melalui sentuhan kreatif tanpa kehilangan identitasnya.
Sementara itu, di kawasan Honggowongso, Seroja Resto and Coffee menawarkan pendekatan yang lebih santai namun tetap berani dalam bereksperimen. Menu seperti Dawet Pannacotta menjadi contoh bagaimana rasa tradisional dapat diolah ke dalam bentuk global. Dawet yang biasanya dinikmati sebagai minuman, dihadirkan sebagai dessert khas Italia dengan tekstur lembut dan tampilan elegan.
Rasa, Sejarah, dan Kemewahan dalam Satu Sajian
Jika ingin melihat bagaimana kuliner tradisional bertemu dengan sejarah dan estetika tinggi, Pracima Tuin menjadi contoh yang menonjol. Di tempat ini, setiap hidangan tidak hanya berbicara soal rasa, tetapi juga memuat jejak sejarah dan narasi budaya yang panjang.
Sate Buntel Pracimasana, misalnya, diolah dari daging cincang lembut yang membalut batang serai, kemudian dimasak perlahan hingga harum dan disajikan dengan saus gulai serta kuning telur. Hidangan ini merujuk pada kegemaran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IV terhadap santapan rakyat yang diangkat ke dalam presentasi yang lebih modern. Sementara itu, Selat Terong menjadi reinterpretasi dari selat Solo dimana terong dimasak hingga lembut dan berpadu dengan kuah manis gurih dari sari tomat, mencerminkan pertemuan budaya Jawa dan Eropa sebagai simbol diplomasi kuliner pada masa Mangkunegaran.
Eksplorasi rasa juga terlihat pada Daging Garang Asem Pracimasana, di mana buntut tanpa tulang diolah dengan teknik perlahan hingga menghasilkan tekstur lembut, lalu disajikan dengan kuah garang asem hijau yang segar dan kompleks. Di sisi lain, sentuhan modern semakin terasa pada lini dessert. Pandan Sumsum Religieuse menghadirkan bubur sumsum dalam bentuk double-stacked choux yang elegan, memadukan mousse santan dengan krim pandan harum.
Begitu pula Teh Krampul Cake yang mentransformasikan minuman khas Solo menjadi mousse cake dengan wangi teh melati, gel jeruk nipis, dan lapisan kelapa renyah. Bahkan minuman seperti Es Dawet Selasih Ice turut diolah lebih kaya, dengan tambahan bubur ketan hitam, bubur sumsum, gula aren, dan santan kelapa.
Namun, pengalaman di Pracima tidak berhenti pada rasa. Bagi Lintang Selfia Kania, salah satu pengunjung, daya tarik tempat ini justru berawal dari apa yang ia lihat di media sosial. “Awalnya tertarik dari TikTok karena vibes-nya, apalagi ambience makan di Mangkunegaran dengan arsitektur yang unik, ditambah jenis makanannya yang campuran tradisional dan modern,” ujarnya. Kesan tersebut semakin kuat saat ia berkunjung langsung. “Pas pertama datang itu langsung ngerasa bagus banget. Service-nya juga detail, dikasih welcome drink, diantar ke tempat duduk, sampai dijelasin tiap menu dengan rinci. Tempatnya juga dikelilingi kaca, jadi terasa mewah dan terbuka,” ceritanya. Pengalaman makan pun terasa lebih personal, bahkan beberapa hidangan disajikan langsung di depan pengunjung, menambah kesan eksklusif sekaligus interaktif.
Menurut Lintang, yang membuat makanan di sini terasa lebih modern adalah keberanian menggabungkan unsur tradisional dengan sentuhan western. Ia menyebutkan menu yang sempat ia coba, seperti hidangan pasta dengan campuran daging bebek serta dessert strawberry lychee choux yang justru menjadi favoritnya. “Dessert-nya enak banget, itu yang paling berkesan. Kalau main course menurutku unik, tapi dessert-nya yang lebih berkesan,” katanya.
Lebih dari sekadar rasa, konsep tempat juga menjadi pembeda utama. Nuansa kerajaan yang dihadirkan, dipadukan dengan estetika modern, menjadikan pengalaman makan terasa istimewa sekaligus “fotogenik”. “Konsepnya kayak di kerajaan, bagus banget buat foto-foto,” tambahnya. Lintang menilai, inovasi semacam ini justru membuat kuliner tradisional menjadi lebih menarik. “Bikin menarik banget, jadi beda dan bikin penasaran.
Penting juga supaya orang nggak bosan dan ngerasa makanannya itu-itu aja,” ujarnya. Ia pun berharap kuliner tradisional Solo ke depan bisa semakin dikenal luas dengan keunikan yang terus berkembang mengikuti zaman.
Di titik ini, Pracima menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya bisa dinikmati sebagai hidangan, tetapi juga sebagai pengalaman yang utuh, menggabungkan rasa, sejarah, suasana, hingga estetika dalam satu sajian.




Comments