top of page

Sehari Penuh Mengecap Rasa Solo

  • Brigita Nicole Silalahi
  • May 22
  • 7 min read

Updated: Jun 3

Menu makanan di warung makan New York. Sumber: Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva
Menu makanan di warung makan New York. Sumber: Dokumentasi pribadi/Naura Sakhi Minerva

SOLO, GemaKata - Di kota Solo, Dan waktu tidak hanya bergerak mengikuti jarum jam, tetapi juga ikut dihidupi dalam setiap sajian makanan. Dari pagi hingga malam hari, masyarakat Solo punya cara tersendiri untuk mengisi perut. Dibalik itu semua, ada cerita dari sebuah tradisi yang terus beradaptasi. Dahulu, dari catatan Serat Centhini di tahun 1814 karya PakuBuwono V menunjukkan bahwa pola makan tiga kali sehari yang terdiri dari pagi, siang dan malam. Hal ini sudah menjadi ritme hidup masyarakat yang bertahan dari sejak masa lampau, lengkap dengan kudapan di sela-selanya. 


Namun, jika kita melihat bagaimana cara orang menjalani harinya, sudah banyak yang berubah dikarenakan kesibukan, gaya hidup membuat kebiasaan ini terus bergeser. Meskipun begitu, satu hal yang tidak berubah adalah rasa. Rasa yang terus dipertahankan ini menjadi benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan kehidupan hari ini, hadir dalam setiap hidangan yang masih setia pada resep dan cara olah tradisional. 


Pagi yang Dimulai dari Kehangatan dan Kesederhanaan


Pagi hari di kota solo diawali dengan sebuah hidangan yang sederhana namun mengikat. Di Kawasan dekat keraton, soto gading telah menjadi saksi  dalam setiap aktivitas pagi warga solo. Pagi itu, Jalan Brigjen Sudiarto No.75 sudah mulai berdenyut  dengan adanya langkah kecil dari setiap pembeli yang mulai meramaikan tempat soto gading. Dan disanalah soto Gading berdiri sejak 1974. Sejak dulu,uah bening yang hangat menjadi pencipta dari kehangatan khas Solo. Tidak terlalu berat, tetapi cukup untuk membangunkan indera. 


Bagi sebagian warga Solo, soto gading menjadi salah satu keistimewaan yang tidak terucap. Selain warga asli Solo, warga di luar kota juga menjadikan solo ini sebagai kenangan yang membekas. Diatas meja kayu yang sudah dipenuhi cemilan. Perpaduan nasi, suwiran ayam atau daging sapi, serta sayuran menciptakan keseimbangan rasa yang halus. Tempat ini juga peduli untuk mereka yang tidak menyukai soto yang langsung digabung dengan kuahnya, sehingga ada pilihan untuk soto pisah dan yang membedakan dari cara penyajiannya serta harga yang relatif lebih mahal. 


Selain itu, disajikan pula makanan tambahan secara langsung di meja makan, pilihan makanan tidak berhenti pada semangkuk soto. Banyak gorengan berderet, mulai dari tahu, tempe mendoan, hingga sate sapi serta jenis jeroan lainnya yang akan menjadi pelengkap dan ikut memperkaya rasa makanan. Ditambah kerupuk sebagai pelengkap dari tekstur, satu meja Soto Gading layaknya sebuah permainan orkestra yang terus dimainkan di dalam mulut. 

Namun, seperti kebiasaan dari warga solo rasanya tidak lengkap jika rutinitas makan tidak di imbangi dengan kudapan atau yang biasa disebut sebgai cemilan. Setelah menyantap makanan dengan rasa yang cenderung asin dan gurih, ini waktu yang tepat untuk mengimbangi dengan makanan manis. 


Jadah bakar menjadi pilihan yang tepat untuk menutup makan pagi di Kota Solo, dari percampuran  ketan dan kelapa, dibentuk persegi panjang, lalu melewati proses panggang untuk bisa sampai ke mulut untuk di makan. Proses pemanggangannya juga ternyata tidak dengan gas. Ucap Adam si penjual jadah bakar “pemanggangan jadah harus dengan arang asli, karena itu yang buat rasanya jadi enak”. Pembuatannya juga memerlukan kesabaran, adam perlu secara berkala mengecek setiap jadah yang di panggang agar tidak gosong. Jadah akan dinyatakan matang, jika jadah sudah mengembang dan berubah warna kecoklatan. Jadah yang matang akan di bungkus dengan selembar daun pisang dan ditutup untuk menjaga kehangatan dari jadah itu sendiri. Setelah kami coba, ternyata lumayan mengejutkan dengan tekstur yang diciptakan dari jadah bakar karena diluarnya daring, namun jika gigitan sudah sampai ke dalamnya akan muncul tekstur kenyal. Rasanya manis bercampurkan gurih dari kelapa menjadi perpaduan yang sempurna. Jadah bakar adalah penutup sarapan yang cocok. 


Siang yang Menjaga Tradisi di tengah Keramaian Pasar


Jika di pagi hari ditemani dengan kehangatan soto, siang di kota Solo. tidak ada tempat yang lebih tepat untuk mengisi makan siang kali ini di tempat ikonik yaitu Pasar Gede. Pasar Gede menyuguhkan banyak pilihan makanan yang bisa menjadi pilihan. Di banyaknya pilihan itu ada salah satu makanan legendaris yang bisa selalu menjadi pilihan paling tepat, nasi liwet Bu Sri dengan kesederhanaan yang justru menjadi kekuatan di dalamnya. 


Warung ini berlokasikan di lantai 2 pasar gede, waktu buka berbeda diantara hari sabtu dan jumat di pukul 06.30 hingga 15.00 WIB sedangkan hari Selasa - Kamis di pukul 06.00 hingga 16.00 WIB. Saat kami datang kesana, ternyata makanan ini menjadi kesukaan untuk berbagai generasi. Tepat di saat kami datang, banyak ibu-ibu serta anak muda yang mengantri untuk membeli nasi liwet Bu Sri. 


Penyajian dari nasi liwet ini menarik karena memanfaatkan daun pisang serta piring dari anyaman bambu. Penggunaan daun pisang juga digunakan bukan tanpa alasan, karena ternyata ketika nasi panas diletakkan di atasnya akan secara alami mengeluarkan aroma dan menyatu dengan nasi. Dalam seporsi nasi liwet Bu Sri, akan menemukan suwiran ayam opor yang memberikan cita rasa mani legit, kuah sayur labu siam bersantan yang menghadirkan rasa gurih dan sedikit pedas,serta telur rebus sebagai protein tambahan. 


Semua komponen makanan ini tidak berdiri sendiri, di saat memakan nasi liwet akan terasa nikmat jika menggabungkan seluruh komponen dalam 1 sendok suapan. 1 suapan ini akan melahirkan rasa manis, gurih, pedas, dan tekstur lembut. Kombinasi dari hidangan nasi liwet ini adalah seni makanan yang selalu menjadi kenangan. Dan keunikan dari tempat makan ini, Bu Sri tidak pernah tergantikan untuk memilih daun pisang sebagai tempat penyajian yang tepat untuk setiap porsinya. 


Di sudut lain Pasar gedhe, dalam keramaiannya lenjongan hadir sebagai kudapan pelengkap makan berat di siang hari. Kami menemukan lenjongan di tengah para penjual rempah - rempah. Lenjongan adalah makanan yang mengumpulkan panganan tradisional yang mungkin terasa asing di generasi muda, isinya terdiri dari tiwul (singkong kering), gatot ( gaplek yang difermentasi), klepon ( bola ketan berisi gula merah), gendar (nasi kering yang digoreng, ketan hitam, ketan putih, dan ditaburi dengan parutan kelapa serta cairan gula merah. Dalam satu tampah, lenjongan hadir layaknya museum rasa mini. Warna warni dari setiap bentuk dan rasa berjejer dan warna putih yang hadir dari parutan kelapa. Kami memilih memakan lenjongan dengan cara mengambil setiap komponennya dan menambahkan parutan kelapa juga gula merah. Setiap jenisnya akan mengeluarkan rasa yang berbeda-beda, salah satunya thiwul yang manis alami dari singkong dan gula merah, teksturnya yang kenyal dan lembut untuk dikunyah, serta aroma khas singkong yang sudah di kukus. 


Malam sebagai Ruang Istirahat dan Kebersamaan


Malam di kota solo terasa berbeda dengan pagi maupun siang, sebab malam menjadi waktu yang tepat untuk melepas penatnya hari. Di keramaian jalan slamet riyadi kota solo, berdiri sebuah bangunan hotel. Namun, bukan itu yang ingin kita lihat, karena tepat di depan hotel itu ada sebuah warung makan bernama New York. Jika kamu mencari di aplikasi pengarah lokasi, jangan sebatas mengetik NEW YORK, tapi tambahkan pula kata warung. Jika tidak, yang muncul justru kota dengan kumpulan gedung pencakar langit di negara Amerika. 

Penaam ini bukan semata - mata plesetan, karena ternyata cerita dibalik penamaan ini dilandasi dari pembeli setia yang bersekolah di dekat warung ini dan yang mengejutkan adalah pelanggan setianya ini mampu menyekolahkan anaknya hingga ke negara amerika tepatnya di kota New York. Pemilik warung pun terinspirasi untuk menamai dengan nama kota itu dan ingin mengabadikan. Keunikan lainnya yang disuguhkan warung ini adalah penggunaan motor viar sebagai tempat untuk memajang lauk-lauknya. Motor viar ini sudah di modifikasi sehingga mampu menampung lauk pauk dan tempat untuk berteduh. 


Motor Viar ini mampu menampung sekitar 20 lauk pauk, mulai dari berbagai macam kuah, sayur mayur, gorengan, tusukan, ayam dan banyak lainnya. Makan di warung ini sangat sederhana, pelanggan duduk di trotoar yang beralaskan karpet. Cukup mudah untuk memesan makanan di warung ini, hanya dengan berdiri mengantri memilih lauk, setelah itu jika sudah menjadi giliran memilih hanya dengan menyebutkan atau menunjuk lauk yang kita inginkan. Tidak perlu mengkhawatirkan harga dari setiap porsinya, dengan sepuluh ribu rupiah kamu sudah bisa menyantap kuah opor serta sayur. Melihat sekeliling warung NewYork menjadi tempat demokrasi yang paling jujur, tempat ini tidak menunjukkan orang kaya atau miskin, hanya ada 2 tipe orang yaitu orang lapar dan orang kenyang. Dengan keanekaragaman lauk disini membuat kita ingin selalu datang, karena di setiap pertemuan kita bisa bertemu dengan lauk lain yang mungkin sebelumnya belum pernah dicoba. Jadi, adil untuk semua orang dengan berbagai kepribadian. 


Setelah mengisi perut dengan makan berat, waktu yang tepat untuk menutup hari dengan sesuatu yang hangat. Lokasinya tidak jauh dari warung New York, bergeser ke kawasan Kadipolo. Disana ada sebuah warung kecil bernama Shi Jack, Shijack juga sudah menjadi kuliner ikonik susu murni yang khas dari Kota Solo. sebelum disajikan susu harus terus di rebus, seperti yang diucapkan Aji penjual susu “Kalo kita harus panas terus, kompor nyala terus, kalo derajat gatau tapi mengira ngira ga terlalu dingin tidak terlalu panas juga. Lemak susu yg diatasnya juga bs diminum. Susu itu gak gosong.”  Kehangatan susu menyelimuti diri dari angin malam Kota Solo. setiap tegukan akan membuat tenggorokan hangat seketika.


Susu segar ini memiliki banyak varian rasa dan  terlaris menurut penjual adalah STM (susu telur madu) serta susu coklat. Selain susu segar, tempat ini juga menjual cemilan lainnya seperti roti bakar. Dan saat itu kami mencoba roti bakar coklat keju susu, roti bakar sudah di potong-potong dan memudahkan kita untuk menyantap. Kisaran harga yang perlu dibayar di setiap menunya mulai dari harga Rp7.000 hingga Rp 13.000. Dan tidak perlu khawatir dengan rasanya, setiap menu terus mengeluarkan rasa yang berbeda beda, mulai dari susu segar coklat yang cenderung manis sedangkan STM lebih ke arah manis dengan sentuhan gurih dari telurnya. Pecinta rasa manis akan cocok untuk menikmati dinginnya Kota Solo sembari di iringi kehangatan dari susu segar. 


Dari fajar hingga larut malam, dapur makan di solo seakan tidak pernah padam. Soto Gading sebagai sambutan pagi, nasi liwet Bu Sri sebagai santapan siang hari yang penuh makna, sementara lenjongan yang menghadirkan kembali cita rasa tradisional yang diwariskan turun-temurun. Di sisi lain,warung NewYork menunjukkan kenikmatan untuk memilih setiap lauknya dengan harga terjangkau, dan Shi Jack Kadipolo menjadi penutup hari dengan sajian hangat. Dari banyak tempat di Kota Solo menunjukkan bahwa kota ini memiliki khas dari rasa dan turun menjadi kenangan. Maka biarkan lidah menjadi peta dan waktu menjadi teman. Semoga setiap suapan yang anda jelajahi di Kota Solo tidak membuang waktu secara sia-sia, tapi di isi dengan rasa yang benar.

Comments


bottom of page