top of page

Piring Terbang Solo: Tradisi Jamuan dalam Hajatan

  • Belva Safina Winasis
  • May 22
  • 2 min read

Updated: Jun 3


SOLO, GemaKata - Perubahan pola konsumsi masyarakat modern tidak menyingkirkan tradisi jamuan dalam hajatan di Solo yang masih menyimpan kekhasan lintas generasi. Salah satunya adalah tradisi piring terbang, sebuah cara penyajian hidangan yang tidak hanya mengedepankan efisiensi, tetapi juga sarat nilai penghormatan terhadap tamu.


Berbeda dengan konsep prasmanan yang kini umum digunakan, piring terbang menghadirkan pengalaman makan yang lebih terstruktur. Tamu undangan tidak perlu mengambil makanan sendiri, melainkan cukup duduk di tempat yang telah disediakan. Selanjutnya, pramusaji atau sinoman akan mengantarkan hidangan secara langsung dan bertahap. Istilah “piring terbang” sendiri tidak merujuk pada piring yang benar-benar diterbangkan. Sebaliknya, istilah ini lahir dari kesan visual saat para pramusaji bergerak cepat keluar masuk dapur membawa hidangan, seolah piring-piring tersebut “melayang” di udara.


Dari tradisi ke sistem jamuan terstruktur dalam praktiknya, penyajian piring terbang memiliki urutan yang jelas dan terorganisir. Sistem ini dikenal dengan pola USDEK, yakni Unjukan (minuman), Sup, Dhaharan (hidangan utama), Es, dan Kondur (pulang). Setiap hidangan disajikan secara bergiliran dengan jeda waktu tertentu, sehingga tamu dapat menikmati makanan tanpa tergesa-gesa.


Menu yang dihadirkan pun mencerminkan kekayaan kuliner khas Solo. Sajian biasanya diawali dengan minuman hangat dan kudapan tradisional, dilanjutkan sup seperti sop manten, kemudian nasi lengkap dengan lauk pauk, hingga ditutup dengan hidangan penutup berupa es atau makanan manis. Menariknya, kemunculan hidangan penutup bukan sekadar pelengkap, melainkan penanda bahwa rangkaian jamuan hampir selesai. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya mengatur makanan, tetapi juga mengatur alur sosial dalam sebuah hajatan.


Akar historis, tradisi piring terbang telah berkembang sejak masa Kerajaan Mataram. Tradisi ini muncul sebagai respons terhadap kebiasaan tamu yang harus makan sambil berdiri dalam acara besar. Untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus penghormatan, lahirlah konsep jamuan di mana tamu dilayani secara langsung. Dalam konteks budaya Jawa, praktik ini mencerminkan nilai unggah-ungguh atau tata krama. Tamu diposisikan sebagai pihak yang dihormati, bahkan diperlakukan layaknya raja. Dengan demikian, piring terbang bukan sekadar teknik penyajian, melainkan simbol penghargaan, kesopanan, dan keteraturan sosial.

Selain nilai budaya, sistem ini juga memiliki sisi praktis. Penyajian makanan dalam porsi yang telah diperhitungkan membantu menghindari pemborosan, sekaligus menyesuaikan dengan kapasitas ruang dan jumlah tamu. Di era modern, konsep ini bahkan diadopsi oleh jasa katering sebagai solusi untuk hajatan dengan ruang terbatas. Meski demikian, esensi tradisionalnya tetap dipertahankan, yakni pelayanan langsung kepada tamu.


Saat ini, tradisi piring terbang masih dapat ditemukan dalam berbagai hajatan di Solo dan sekitarnya, meskipun mulai bersaing dengan sistem prasmanan yang lebih fleksibel. Tantangan utama terletak pada perubahan gaya hidup masyarakat yang mengutamakan kepraktisan dan kecepatan. Namun, bagi sebagian masyarakat, piring terbang tetap menjadi pilihan karena menghadirkan pengalaman yang lebih hangat, teratur, dan berkesan.


Pada akhirnya, piring terbang lebih dari sekadar cara menyajikan bagaimana makanan dihidangkan, tetapi bagaimana sebuah budaya memaknai kehadiran tamu. Di balik setiap piring yang diantarkan, tersimpan nilai tentang penghormatan, kebersamaan, dan identitas lokal yang terus dijaga. Di tengah dunia yang semakin instan, tradisi ini menjadi pengingat bahwa cara kita menyajikan sesuatu, termasuk makanan sampai cara kita menghargai sesama.

 


Comments


bottom of page