top of page

Self Reward atau Pemborosan? Menakar Tren Budaya Konsumtif Generasi Z

  • Naura Sakhi Minerva
  • Jun 22
  • 2 min read

Updated: Jul 3

Sumber foto: https://rri.co.id
Sumber foto: https://rri.co.id

SOLO, GemaKata - Istilah self-reward yang diartikan sebagai bentuk mengapresiasi diri sendiri kini telah menjadi sebuah mantra populer di kalangan Generasi Z. Memasuki pertengahan tahun 2026, lini masa media sosial ramai dipenuhi oleh narasi pembenaran untuk membeli barang-barang impian setelah lelah menghadapi rutinitas sehari-hari seperti kuliah atau kerja. Namun, tren gaya hidup ini perlahan bergeser menjadi fenomena overconsumption atau konsumsi berlebih yang marak di Indonesia. Bentuk menghargai diri sendiri dan pemborosan yang tidak terkontrol pun kini tidak memiliki batas yang terukur. 


Gaya hidup konsumerisme ini pada dasarnya merupakan dampak nyata dari derasnya arus globalisasi yang kian tak terbendung. Globalisasi menciptakan standar pergaulan baru yang secara tidak disadari memaksa seseorang untuk selalu tampil modis dan mengikuti setiap perkembangan tren terkini agar tidak tereliminasi dari lingkungan sosialnya. Fenomena ini berkelindan erat dengan gejala FOMO (Fear of Missing Out), di mana ada ketakutan kolektif di dalam diri Gen Z jika mereka tidak memiliki apa yang sedang dimiliki oleh orang lain. 


Bagi Generasi Z yang dikenal sebagai digital natives, pemenuhan self-reward yang berkelindan dengan FOMO ini sayangnya kerap kali didikte oleh algoritma media sosial. Melalui tagar seperti #TikTokMadeMeBuyIt atau video unboxing yang diunggah para influencer, barang non-primer seperti pakaian fast fashion, kosmetik viral, hingga pernak-pernik yang disulap seolah itu merupakan kebutuhan wajib. Alhasil, keputusan pembelian yang seharusnya didasari oleh aspek fungsi, sering kali kalah oleh obsesi untuk selalu terlihat trendy demi mendapatkan validasi di dunia maya. 


Kemudahan teknologi finansial kerap kali turut andil dalam mendorong budaya konsumtif. Kehadiran fitur pembayaran satu klik atau one-click payment serta layanan cicilan digital atau pay later membuat aktivitas belanja terasa tanpa beban di awal. Barang yang diberi label sebagai self reward bisa berpindah ke keranjang belanjaan hanya dengan beberapa ketukan layar, tanpa adanya pertimbangan finansial yang matang. 


Sayangnya, pembenaran atas mantra ‘self-reward’ atau apresiasi diri ini mulai menunjukkan realitas pahit. Banyak tercatat adanya kenaikan angka kredit macet di usia produktif yang berakar dari pengeluaran impulsif demi gaya hidup. Pada akhirnya, tren ini menjadi sebuah refleksi penting bagi Gen Z. Memberi penghargaan pada diri sendiri tentu bukan hal yang salah, tetapi ketika apresiasi itu bergeser menjadi hal yang justru mendatangkan jeratan hutang digital dan tumpukan barang tak terpakai di sudut kamar, self reward tersebut telah berubah menjadi pemborosan berkedok apresiasi diri. 


Comments


bottom of page