Digital Detox Weekend, Upaya Menjaga Keseimbangan Hidup
- Naura Sakhi Minerva
- Jul 3
- 2 min read

SOLO, GemaKata - Di tengah derasnya arus informasi dan kebiasaan menggulir layar tanpa henti, semakin banyak anak muda yang memilih menghabiskan akhir pekan dengan menjauh sejenak dari dunia digital. Fenomena ini dikenal dengan sebutan “digital detox weekend”. Digital detox weekend kian ramai dibincangkan, ketika kini banyak anak muda yang sadar akan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
Paparan layar yang berkepanjangan kerap dikaitkan dengan kelelahan mental, gangguan tidur, hingga kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Kondisi ini mendorong sebagian orang mulai membatasi waktu penggunaan handphone, dengan mematikan notifikasi, mengurangi screen time, dan mengurasi konten yang mereka konsumsi.
Meski begitu, tidak semua orang memaknai digital detox dengan cara yang sama. Bagi Nakin (20), menjaga kesehatan digital bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya.
“Menurutku pribadi, media sosial tetap bisa menjadi tempat untuk melepas penat, asalkan diisi dengan hal-hal yang kita sukai. Jadi, kalau aku nggak merasa harus benar-benar berhenti menggunakan sosmed,” ujarnya.
Alih-alih menonaktifkan akun, Nakin memilih mengelola berandanya agar tetap memberikan pengalaman yang positif. Ia dengan rutin menyembunyikan konten yang memicu perasaan tertekan atau membuatnya membandingkan diri dengan orang lain.
“Kalau ada konten yang bikin aku merasa down atau capek secara mental, biasanya langsung aku lewati atau mute,” katanya
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa digital detox tidak selalu berarti menjauh total dari layar. Bagi sebagian orang seperti Nakin, langkah sederhana dapat dilakukan dengan menyaring konten, membatasi penggunaan handphone, atau sekadar memberi jeda dari notifikasi. Langkah ini menjadi cara untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan penggunaan teknologi.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental dapat dimulai dari bagaimana kita mengelola kehidupan digital. Baik dengan mengurangi waktu layar maupun menata ulang ruang digital yang dikonsumsi setiap hari, tujuannya tetap sama, yaitu menciptakan keseimbangan antara dunia maya dan kehidupan nyata.




Comments